Artikel: Virus dan Penyakit dalam Perspektif Al-quran
https://docs.google.com/document/d/1rR71DW6XUaAjF6d21Mj7HT1pvy6amRNDBHG-90KDlSc/edit?usp=sharing
PARIS'S BLOG
Selasa, 14 Juli 2020
Senin, 25 November 2019
IAIN SULTAN AMAI GORONTALO
Pendidikan adalah gerbang menuju kehidupan yang lebih baik dengan memperjuangkan hal-hal terkecil hingga hal-hal terbesar yang normalnya akan dilewati oleh setiap manusia. Pendidikan adalah bekal untuk mengejar semua yang ditargetkan oleh seseorang dalam kehidupannya sehingga tanpa pendidikan, maka logikanya semua yang diimpikannya akan menjadi sangat sulit untuk dapat diwujudkan.
Faktanya, memang tidak semua orang yang berpendidikan sukses dalam
perjalanan hidupnya, tetapi jika dilakukan perbandingan maka orang yang
berpendidikan tetap jauh lebih banyak yang bisa mengecap kesuksesan daripada
orang yang tidak pernah mengecap pendidikan, baik pendidikan formal maupun non
formal. Pendidikan adalah alat untuk mengembangkan diri, mental, pola pikir dan
juga kualitas diri seseorang.
Dan salah satu lembaga pendidikan Formal yang
disediakan bagi mereka yang ingin melanjutkan studinya ke perguruan tinggi
adalah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo. IAIN merupakan Perguruan Tinggi
Agama Islam Negeri yang ada di provinsi Gorontalo yang memiliki 4 Fakultas, yaitu:
1. Fakultas Syari’ah, terdiri dari:
- Akhwal Syahsiyyah (Hukum Keluarga)
- Hukum Pidana Islam (Jinayah)
- Hukum Tata Negara (Siyasah)
- Ilmu Hadis
2. Fakultas Tarbiyah, terdiri dari:
- Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
- Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI)
- Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA)
- Jurusan Tadris Bahasa Inggris (TBI)
- Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
- Jurusan Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (PGRA)
3. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), terdiri dari:
- Ekonomi Syariah
- Perbankan Syariah
- Akuntansi Syariah
- Manajemen Keuangan Syariah
4. Fakultas Usuluddin dan Dakwah, terdiri dari:
- Aqidah Filsafat
- Komunikasi dan Penyiaran Islam
- Sosiologi Agama
- Politik Islam
- Manajemen Dakwah
- Ilmu Al-quran dan Tafsir
Dilihat dari fakultas dan jurusan yang ada di
IAIN Sultan Amai Gorontalo,
Perguruna Tinggi ini tidak hanya berfokus pada pendidikan Islam semata, akan
tetapi sudah membuka jurusan yang bergerak di bidang umum. Oleh karena itu, IAIN Sultan Amai Gorontalo bisa dijadikan tujuan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang
lebih tinggi. Dan ke depan, IAIN Sultan Amai Gorontalo Insya Allah akan beralih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Gorontalo.
Alamat Kampus:
Kampus I beralamat di Jalan Gelatik no. 1, Kota Gorontalo.
Kampus II beralamat di Kelurahan Pone, Limboto, Kabupaten Gorontalo.
MARI KITA LANJUTKAN PENDIDIKAN KITA
KE IAIN SULTAN AMAI GORONTALO, UNTUK MENAMBAH DAN
MENGEMBANGKAN WAWASAN KEILMUAN KITA…!!!
LEBIH BAIK IAIN, IAIN LEBIH BAIK.
Sabtu, 29 Juni 2019
Makalah EYD: Angka dan Bilangan
BAB I
PENDAHULULAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa
Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat sebagai dampak kemajuan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni. Penggunaannya pun semakin luas dalam beragam
ranah pemakaian, baik secara lisan maupun tulis khususnya tentang menulis angka
dan ambing bilangan. Oleh karena itu, kita memerlukan rujukan yang dapat
dijadikan pedoman dan acuan berbagai kalangan pengguna bahasa Indonesia,
terutama dalam penulisan angka dan ambing bilangan, secara baik dan benar.
Sehubungan
dengan itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia (PUEBI). Pedoman ini disusun untuk menyempurnakan Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD).
Pedoman ini diharapkan dapat mengakomodasi perkembangan bahasa Indonesia yang
makin pesat khususnya dalam penulisan angka dan ambing bilangan.
Semoga
makalah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia tentang Aturan Penulisan Angka dan Lambang
Bilangan dan Aturan Penulisan Tanda Baca, secara langsung atau tidak langsung
akan mempercepat proses tertib berbahasa Indonesia sehingga memantapkan fungsi
bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi pokok
permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana Aturan Penulisan Angka dan Lambang Bilangan pada Bahasa Indonesia yang
sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan?
2.
Bagaimana Aturan Penulisan Tanda Baca pada Bahasa Indonesia yang sesuai dengan Ejaan Yang
Disempurnakan?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Aturan Penulisan Angka dan Lambang Bilangan
Angka Arab atau angka Romawi lazim
dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor.
Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi :
Untuk angka yang lebih besar
(≥5.000), sebuah garis ditempatkan di atas simbol indikator perkalian dengan
1.000:
Misalnya:
-
Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.
-
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju,
dan 5 orang abstain.
- a. Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.a. Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.
Misalnya:
-
Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
-
Tiga pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.
Catatan:
Penulisan berikut dihindari.
-
50 siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
-
3 pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.
b.
Apabila bilangan pada awal kalimat tidak dapat dinyatakan
dengan satu atau dua kata, susunan kalimatnya diubah.
Misalnya:
-
Panitia mengundang 250 orang peserta.
-
Di lemari itu tersimpan 25 naskah kuno
Catatan:
Penulisan berikut dihindari:
-
250 orang peserta diundang panitia.
-
25 naskah kuno tersimpan di lemari itu.
- Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis
sebagian dengan huruf supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya:
-
Dia mendapatkan bantuan 250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.
-
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar
rupiah.
- Angka dipakai untuk menyatakan (a) ukuran panjang,
berat, luas, isi, dan waktu serta (b) nilai uang.
Misalnya: 0,5 sentimeter, 5 kilogram, 4 hektare, 10 liter,
2 tahun 6 bulan 5 hari, 1 jam 20 menit, Rp5.000,00, US$3,50.
- Angka dipakai untuk menomori alamat, seperti jalan,
rumah, apartemen, atau kamar.
Misalnya:
Jalan Tanah Abang I No. 15 atau Jalan Tanah Abang I/15
Hotel Mahameru, Kamar 169
Gedung Samudra, Lantai II, Ruang 201
- Angka dipakai untuk menomori bagian karangan atau
ayat kitab suci.
Misalnya:
-
Bab X, Pasal 5, halaman 252
-
Surah Yasin: 9
- Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai
berikut:
a.
Bilangan Utuh
Misalnya: dua belas (12), tiga puluh (30), lima ribu
(5.000)
b.
Bilangan Pecahan
Misalnya: setengah atau seperdua (½), seperenam belas (⅟16), tiga perempat (¾), dua persepuluh (²∕₁₀), tiga
dua-pertiga (3⅔).
- Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan
cara berikut:
Misalnya: abad XX, abad ke-20, abad kedua puluh, Perang
Dunia II, Perang Dunia Ke-2, Perang Dunia Kedua.
- Penulisan angka yang mendapat akhiran -an dilakukan
dengan cara berikut:
Misalnya:
-
lima lembar uang 1.000-an (lima lembar uang seribuan)
-
tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)
-
uang 5.000-an (uang lima ribuan)
- Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus
dilakukan dalam peraturan perundang-undangan, akta, dan kuitansi.
Misalnya:
-
Setiap orang yang menyebarkan atau mengedarkan rupiah tiruan, sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1
(satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
-
Telah diterima uang sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan ratus lima
puluh ribu rupiah) untuk pembayaran satu unit televisi.
- Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan angka
dan diikuti huruf dilakukan seperti berikut:
Misalnya:
-
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu
lima ratus rupiah lima puluh sen).
-
Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) ke atas
harus dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban.
- Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi
ditulis dengan huruf.
Misalnya: Kelapadua, Rajaampat, Simpanglima,
Tigaraksa.
2.2
Aturan Penulisan Tanda Baca
2.2.1
Tanda Titik (.)
1. Tanda titik dipakai
pada akhir kalimat pernyataan.
Misalnya:
-
Mereka duduk di sana.
-
Dia akan datang pada pertemuan itu.
2.
Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam
suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya:
a. I. Kondisi Kebahasaan di Indonesia
A. Bahasa Indonesia
1. Kedudukan
2. Fungsi
B. Bahasa Daerah
1. Kedudukan
2. Fungsi
C. Bahasa Asing
1. Kedudukan
2. Fungsi
b. 1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafk
2. Patokan Khusus
Catatan:
(1)
Tanda titik tidak dipakai pada angka atau huruf yang
sudah bertanda kurung dalam suatu perincian.
Misalnya:
Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai
1)
bahasa nasional yang berfungsi, antara lain,
a)
lambang kebanggaan nasional,
b)
identitas nasional, dan
c)
alat pemersatu bangsa;
2)
bahasa negara ….
(2)
Tanda titik tidak dipakai pada akhir penomoran digital
yang lebih dari satu angka (seperti pada 2b).
(3)
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau angka
terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul
tabel, bagan, grafik, atau gambar.
Misalnya:
Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia
Bagan 2.1 Bagian Umum
3.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan
detik yang menunjukkan waktu atau jangka
waktu.
Misalnya:
-
pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20
detik) atau 01.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik).
4.
Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama
penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau
tanda seru), dan tempat terbit.
Misalnya:
Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Peta
Bahasa di Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Jakarta.
Moeliono, Anton M. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta: Gramedia.
5.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya yang menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.
Anggaran lembaga itu mencapaiRp225.000.000.000,00.
Catatan:
(1)
Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan
ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
-
Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
-
Kata sila terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa halaman
1305.
-
Nomor rekening panitia seminar adalah 0015645678.
(2)
Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan
kepala karangan, ilustrasi, atau tabel.
Misalnya:
-
Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
-
Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)
-
Gambar 3 Alat Ucap Manusia atau
(3)
Tanda titik tidak dipakai di belakang (a) alamat penerima
dan pengirim surat serta (b) tanggal surat.
Misalnya:
Yth. Direktur Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya No. 73
Menteng
Jakarta 10330
Yth. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur
21 April 2013
Jakarta, 15 Mei 2013 (tanpa kop surat)
2.2.2
Tanda Koma (,)
1.
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu
pemerincian atau pembilangan.
Misalnya:
Telepon seluler, komputer, atau internet
bukan barang asing lagi.
Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber
kepustakaan.
Satu, dua, ... tiga!
2.
Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung,
seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat
majemuk (setara).
Misalnya:
Saya ingin membeli kamera, tetapi uang
saya belum cukup.
Ini bukan milik saya, melainkan milik
ayah saya.
Dia membaca cerita pendek, sedangkan
adiknya melukis panorama.
3.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak
kalimat yang mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
Kalau diundang, saya akan datang.
Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai jika induk
kalimat mendahului anak kalimat.
Misalnya:
Saya akan datang kalau diundang.
Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.
4.
Tanda koma dipakai di belakang kata atau
ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan
demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.
Misalnya:
Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh
karena itu, dia memperoleh beasiswa belajar di luar negeri.
Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi,
wajar kalau dia menjadi bintang pelajar
Orang tuanya kurang mampu. Meskipun
demikian, anak-anaknya berhasil menjadi sarjana.
5.
Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah
kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai,
dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.
Misalnya:
O,
begitu? Nak,
kapan selesai kuliahmu?
Wah, bukan
main! Siapa
namamu, Dik?
Hati-hati, ya, jalannya licin! Dia baik sekali, Bu.
6.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan
langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya:
Kata nenek saya, “Kita harus berbagi dalam
hidup ini.”
“Kita harus berbagi dalam hidup ini,” kata
nenek saya, “karena manusia adalah makhluk sosial.”
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan
petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru
dari bagian lain yang mengikutinya.
Misalnya:
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Pak Lurah.
“Masuk ke dalam kelas sekarang!” perintahnya.
“Wow, indahnya pantai ini!” seru wisatawan
itu.
7.
Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan
alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat
dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18,
Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Matraman, Jakarta 13130
Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas
Indonesia, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta
Surabaya, 10 Mei 1960
Tokyo, Jepang
8.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian
nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik
Internasional. Jakarta: Restu Agung.
Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa
Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat
Bahasa.
9.
Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian
dalam catatan kaki atau catatan akhir.
Misalnya:
Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru
Bahasa Indonesia, Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.
Hadikusuma Hilman, Ensiklopedi Hukum Adat
dan Adat Budaya Indonesia (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.
10.
Tanda koma dipakai di antara nama orang dan
singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan
nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
B. Ratulangi, S.E., Ny. Khadijah, M.A., Bambang
Irawan, M.Hum.
Siti Aminah, S.H., M.H.
11.
Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau
di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
12,5 m, 27,3 kg, Rp500,50, Rp750,00
12.
Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan
tambahan atau keterangan aposisi.
Misalnya:
Di daerah kami, misalnya, masih banyak
bahan tambang yang belum diolah.
Semua siswa, baik laki-laki maupun
perempuan, harus mengikuti latihan paduan suara.
Soekarno, Presiden I RI, merupakan
salah seorang pendiri Gerakan Nonblok.
Pejabat yang bertanggung jawab, sebagaimana
dimaksud pada ayat (3), wajib menindaklanjuti laporan dalam waktu paling
lama tujuh hari.
13. Tanda
koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk
menghindari salah baca/salah pengertian.
Misalnya:
Dalam pengembangan bahasa, kita dapat
memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima
kasih.
Bandingkan dengan:
Dalam pengembangan bahasa kita dapat
memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara kami ucapkan terima
kasih.
2.2.3
Tanda Titik Koma (;)
1.
Tanda titik koma dapat dipakai sebagai
pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari
kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
Hari sudah malam; anak-anak masih membaca
buku.
Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis
makalah; Adik membaca cerita pendek.
2.
Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian
yang berupa klausa.
Misalnya:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini
adalah
(1)
berkewarganegaraan Indonesia;
(2)
berijazah sarjana S-1;
(3)
berbadan sehat; dan
(4)
bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
3.
Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan
bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.
Misalnya:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju,
celana, dan kaus; pisang, apel, dan jeruk.
Agenda rapat ini meliputi
- pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
- penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga,
dan program kerja; dan
- pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.
2.2.4
Tanda Titik Dua (:)
1.
Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu
pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.
Misalnya:
Mereka memerlukan perabot rumah tangga:
kursi, meja, dan lemari.
Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang
kemerdekaan: hidup atau mati.
2.
Tanda titik dua tidak dipakai jika perincian
atau penjelasan itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Tahap penelitian yang harus dilakukan
meliputi
a.
persiapan, c.
pengolahan data, dan
b.
pengumpulan data, d.
pelaporan
3.
Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau
ungkapan yang memerlukan pemerician.
Misalnya:
a.
Ketua :
Ahmad Wijaya
Sekretaris :
Siti Aryani
Bendahara :
Aulia Arimbi
b.
Narasumber :
Prof. Dr. Rahmat Effendi
c.
Pemandu :
Abdul Gani, M.Hum.
d.
Pencatat :
Sri Astuti Amelia, S.Pd.
4.
Tanda titik dua dipakai dalam naskah drama
sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : “Bawa koper ini, Nak!”
Amir: “Baik, Bu.”
Ibu : “Jangan lupa, letakkan baik-baik!”
5.
Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid
atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak
judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
Surah Albaqarah: 2—5
Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen
Nusantara Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Pusat Bahasa.
2.2.5
Tanda Hubung (-)
1.
Tanda hubung dipakai untuk menandai bagian
kata yang terpenggal oleh pergantian baris.
Misalnya:
Di samping cara lama, diterapkan juga ca-
ra baru ….
Nelayan pesisir itu berhasil membudidaya-
kan rumput laut.
2.
Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur
kata ulang.
Misalnya: anak-anak, berulang-ulang,
kemerah-merahan,mengorek-ngorek.
3.
Tanda hubung dipakai untuk menyambung
tanggal, bulan, dan tahun yang dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf
dalam kata yang dieja satu-satu.
Misalnya: 11-11-2013, p-a-n-i-t-i-a
4.
Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas
hubungan bagian kata atau ungkapan.
Misalnya:
ber-evolusi, meng-ukur, dua-puluh-lima ribuan
(25 x 1.000)
²³∕₂₅ (dua-puluh-tiga perdua-puluh-lima), mesin
hitung-tangan
Bandingkan dengan
be-revolusi, me-ngukur, dua-puluh lima-ribuan
(20 x 5.000)
20 ³∕₂₅ (dua-puluh tiga perdua-puluh-lima),
mesin-hitung tangan
5.
Tanda hubung dipakai untuk merangkai
a.
se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf
kapital (se-Indonesia, se-Jawa Barat);
b.
ke- dengan angka (peringkat ke-2);
c.
angka dengan –an (tahun 1950-an);
d.
kata atau imbuhan dengan singkatan yang berupa huruf
kapital (hari-H, sinar-X, ber-KTP, di-SK-kan);
e.
kata dengan kata ganti Tuhan (ciptaan-Nya, atas
rahmat-Mu);
f.
huruf dan angka
(D-3, S-1, S-2); dan
g.
kata ganti -ku, -mu, dan -nya dengan singkatan yang
berupa huruf kapital (KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku).
Catatan:
Tanda hubung tidak dipakai di antara huruf
dan angka jika angka tersebut melambangkan jumlah huruf.
Misalnya:
BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia), LP3I (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan
Profesi Indonesia), P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan)
6.
Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur
bahasa Indonesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
di-sowan-i (bahasa Jawa, ‘didatangi’),
ber-pariban (bahasa Batak, ‘bersaudara sepupu’), di-back up, me-recall,
pen-tackle-an
7.
Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk
terikat yang menjadi objek bahasan.
Misalnya:
Kata pasca- berasal dari bahasa
Sanskerta.
Akhiran -isasi pada kata betonisasi
sebaiknya diubah menjadi pembetonan
2.2.6
Tanda Pisah (—)
1.
Tanda pisah dapat dipakai untuk membatasi
penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan
tercapai—diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
Keberhasilan itu—kita sependapat—dapat
dicapai jika kita mau berusaha keras.
2.
Tanda pisah dapat dipakai juga untuk
menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain.
Misalnya:
Soekarno-Hatta—Proklamator Kemerdekaan
RI—diabadikan menjadi nama bandar udara internasional.
Rangkaian temuan ini—evolusi, teori
kenisbian, dan pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang alam
semesta.
Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia—amanat Sumpah
Pemuda—harus terus digelorakan.
3.
Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan,
tanggal, atau tempat yang berarti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.
Misalnya:
Tahun 2010—2013, Tanggal 5—10 April 2013,
Jakarta—Bandung
2.2.7 Tanda Tanya (?)
1. Tanda tanya dipakai
pada akhir kalimat tanya.
Misalnya:
Kapan Hari Pendidikan Nasional diperingati?
Siapa pencipta lagu “Indonesia Raya”?
2.
Tanda tanya dipakai di dalam tanda
kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat
dibuktikan kebenarannya.
Misalnya:
Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa
daerah.
2.2.8 Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai untuk mengakhiri
ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan
kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.
Misalnya:
Alangkah indahnya taman laut di Bunaken!
Mari kita dukung Gerakan Cinta Bahasa Indonesia!
Bayarlah pajak tepat pada waktunya!
Masa! Dia bersikap seperti itu?
Merdeka!
2.2.9 Tanda Elipsis (...)
1.
Tanda elipsis dipakai untuk
menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya:
Penyebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa
negara ialah ….
..., lain lubuk lain ikannya.
Catatan:
(1) Tanda elipsis itu
didahului dan diikuti dengan spasi.
(2)
Tanda elipsis pada akhir kalimat
diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat buah).
2.
Tanda elipsis dipakai untuk menulis
ujaran yang tidak selesai dalam dialog.
Misalnya:
“Menurut saya … seperti … bagaimana, Bu?”
“Jadi, simpulannya … oh, sudah saatnya
istirahat.”
2.2.10
Tanda Petik (“…”)
1.
Tanda petik dipakai untuk mengapit
petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis
lain.
Misalnya:
“Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam pidatonya.
“Kerjakan tugas ini sekarang!” perintah atasannya. “Besok
akan dibahas dalam rapat.”
Menurut Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan.”
2.
Tanda petik dipakai untuk mengapit
judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai
dalam kalimat.
Misalnya:
Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 125 buku itu.
Marilah kita menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”!
Film “Ainun dan Habibie” merupakan kisah nyata yang
diangkat dari sebuah novel
3.
Tanda petik dipakai untuk mengapit
istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
“Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi.
Dilarang memberikan “amplop” kepada
petugas!
2.2.11
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
1.
Tanda petik tunggal dipakai untuk
mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain.
Misalnya:
Tanya dia, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
“Kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang!’, dan rasa letihku
lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
“Kita bangga karena lagu ‘Indonesia Raya’ berkumandang di
arena olimpiade itu,” kata Ketua KONI.
2.
Tanda petik tunggal dipakai untuk
mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan.
Misalnya:
tergugat ‘yang digugat’, retina ‘dinding mata sebelah
dalam’, noken ‘tas khas Papua’, tadulako ‘panglima’, marsiadap ari ‘saling
bantu’, tuah sakato ‘sepakat demi manfaat bersama’
2.2.12
Tanda Kurung ((…))
1.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit
tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya:
Dia memperpanjang surat izin mengemudi
(SIM).
Warga baru itu belum memiliki KTP
(kartu tanda penduduk).
Lokakarya (workshop) itu diadakan di
Manado.
2.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit
keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.
Misalnya:
Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud”
(nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
Keterangan itu (lihat Tabel 10)
menunjukkan arus perkembangan baru pasar dalam negeri.
3.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit
huruf atau kata yang keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan atau
dihilangkan.
Misalnya:
Dia berangkat ke kantor selalu menaiki
(bus) Transjakarta.
Pesepak bola kenamaan itu berasal dari
(Kota) Padang.
4.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit
huruf atau angka yang digunakan sebagai penanda pemerincian.
Misalnya:
Faktor produksi menyangkut (a) bahan baku, (b) biaya
produksi, dan (c) tenaga kerja.
Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan
(1)
akta kelahiran,
(2)
ijazah terakhir, dan
(3)
surat keterangan kesehatan.
2.2.13
Tanda Kurung Siku ([…])
1.
Tanda kurung siku dipakai untuk
mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan
atau kekurangan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.
Misalnya:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan]
kaidah bahasa Indonesia.
Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indonesia
dirayakan secara khidmat.
2.
Tanda kurung siku dipakai untuk
mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang terdapat dalam tanda kurung.
Misalnya:
Persamaan kedua proses itu (perbedaannya dibicarakan di
dalam Bab II [lihat halaman 35─38]) perlu dibentangkan di sini.
2.2.14
Tanda Garis Miring (/)
1.
Tanda garis miring dipakai dalam nomor
surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua
tahun takwim.
Misalnya:
Nomor: 7/PK/II/2013, Jalan Kramat
III/10, tahun ajaran 2012/2013
2.
Tanda garis miring dipakai sebagai
pengganti kata dan, atau, serta setiap.
Misalnya:
mahasiswa/mahasiswi ‘mahasiswa
dan mahasiswi’
dikirimkan lewat darat/laut ‘dikirimkan lewat darat
atau lewat laut’
3.
Tanda garis miring dipakai untuk
mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas
kesalahan atau kelebihan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.
Misalnya:
Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapa
kali.
Dia sedang menyelesaikan /h/utangnya di bank.
2.2.15
Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Tanda penyingkat dipakai untuk
menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun dalam konteks
tertentu.
Misalnya:
Dia ‘kan kusurati. (‘kan = akan)
Mereka sudah datang, ‘kan? (‘kan = bukan)
Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)
5-2-‘13 (’13 = 2013)
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Setelah melakukan pembahasan dan
pengkajian mengenai Aturan
Penulisan Angka dan Lambang Bilangan dan Aturan Penulisan Tanda Baca, maka
penulis menyimpulkan hal-hal sebagai sebagai berikut:
1)
Bahwa dalam penulisan angka dan lambang bilangan, kita
harus berpedoman dan berdasarkan pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
disusun oleh Panitia Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. Agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan
terutama dalam penulisan karya tulis ilmiah, dalam hal ini yang berhubungan
dengan penulisan angka dan lambing bilangan.
2)
Dalam aturan penulisan tanda baca, kita mengenal beberapa tanda baca yang
sering dipakai dalam penulisan karya tulis ilmiah, yaitu:
Tanda Titik (.), Tanda Koma (,), Tanda
Titik Koma (;), Tanda Titik Dua (:), Tanda Hubung (-), Tanda Pisah (—), Tanda
Tanya (?), Tanda Seru (!), Tanda Elipsis (...), Tanda Petik (“…”), Tanda Petik
Tunggal (‘…’), Tanda Kurung ((…)), Tanda Kurung Siku ([…]), Tanda Garis Miring
(/), dan Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘). Supaya kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam hal penggunaaan
tanda baca, maka kita harus berpedoman pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disusun oleh
Panitia Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
Langganan:
Komentar (Atom)




