إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ. أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى .يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ .يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Waktu mengalir begitu cepat. Menit demi
menit yang tak terasa, jam demi jam yang seperti berkejaran, lalu bergantilah
hari demi hari, hingga kini kita sekarang
ini berada di hari Jum'at. Kemudian
minggu berganti minggu, bulan berganti bulan hingga tak terasa kita sudah
berada di penghujung bulan di tahun 2017, yang artinya adalah tak lama lagi
kita akan memasuki tahun baru Masehi,
yakni tahun 2018. Maka
patutlah kita bersyukur kepada Allah SWT, Rabb yang telah menganugerahkan semua
nikmat. Nikmat
Iman, Islam, dan juga fisik yang sehat yang dengannya kita mampu menghadiri
shalat Jum'at. Pada khutbah kali ini, saya tidak akan membahas tentang LGBT
yang lagi marak sekarang ini, karena LGBT itu (Lesbi, Gay, Biseksual dan
Transgender) hanya akan menyebabkan LGBT juga yakni Laknat, Gempa, Banjir dan
Tsunami. Na’uzdubillaahi min dzalik. Namun, yang akan saya bahas pada
kesempatan Jumat kali ini adalah “Bekal Abadi Ke Akhirat”
Jamaah
Jum’at yang dirahmati Allah,
Jum'at adalah hari yang agung. Dalam
terminologi hadits, Jum'at disebut sebagai Sayyidul Ayyam: rajanya hari. Hari
Jum'at adalah hari terbaik, di mana pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan
surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada
hari Jum'at. Dalam riwayat yang lain kita mengetahui bahwa keistimewaan hari
Jum'at adalah karena banyaknya keutamaan pada hari itu. Diantaranya adalah
keutamaan membaca surat Al-Kahfi pada hari ini.
من قرأ سورة الكهف في يوم الجمعة أضاء له النور ما بين الجمعتين
Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum'at, memancarlah cahaya baginya antara dua Jum'at (HR. Baihaqi, dihasankan Al-Albani)
Ketika Al-Qur'an atau hadits menyebutkan hari, maka yang dimaksudkan adalah hari menurut perhitungan qamariyah atau kalender hijriyah. Yaitu dimulai matahari terbenam, hingga matahari terbenam esok harinya. Atau dari Maghrib ke Maghrib. Bukan dari tengah malam seperti dalam kalender masehi.
Maka membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum'at berarti waktunya terbentang antara Maghrib pada Kamis malam Jum'at hingga Jum'at sore sesaat sebelum Maghrib. Artinya, bagi kita yang belum sempat membacanya, masih ada kesempatan untuk hari ini hingga sore nanti.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Dalam surat Al-Kahfi tersebut, ada
sebuah ayat yang menunjukkan perbekalan abadi menuju akhirat, sekaligus
mengingatkan kita dari ketertipuan dunia. Dalam kesempatan yang mulia ini,
marilah kita mentadabburinya bersama,
marilah kita mengambil pelajaran darinya dalam rangka meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ
الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi
amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu
serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al-Kahfi : 46)
Ayat 46 dari surat Al-Kahfi ini menunjukkan kepada kita, mengingatkan bahwa sesungguhnya harta dan anak adalah perhiasan dunia. Keduanya bukan segala-galanya. Namun betapa banyak orang yang tertipu oleh harta. Merasa bahwa harta adalah hal yang paling berharga, yang mampu menjamin masa depan dan kemuliaan. Hingga banyak orang yang terjerumus dalam dosa karena memburu harta dengan cara yang haram. Atau tertipu dengan harta yang telah diperolehnya hingga ia tak lagi memperdulikan Allah yang Maha Pemberi rezeki. Syukur tidak ada, justru kufur yang dipelihara. Maka Al-Qur'an pun menunjukkan kesudahan orang-orang seperti Qarun, yang takabur dengan hartanya. Kekayaannya yang sangat besar, hingga kunci istananya tak mampu dipikul unta justru membuat ia celaka. Qarun beserta hartanya akhirnya ditelan bumi. Barangkali dari sinilah, orang-orang ketika menemukan harta dari dalam tanah menyebutnya sebagai harta karun.
Demikian pula dengan anak. Mereka adalah perhiasan dunia. Seperti harta, di satu sisi ia bisa berbuah surga jika dicari dengan cara halal, disyukuri, ditunaikan kewajiban zakat dan dipakai memperjuangkan agama Allah. Anak merupakan potensi besar bagi manusia untuk mendapatkan pahala. Mulai dari pahala mendidik, memberi nafkah, hingga potensi amal jariyah yang pahalanya takkan terputus ketika ia menjadi anak shalih dan mendoakan kita sebagai buah pendidikan islami yang dterimanya.
Namun di sisi lain, sebagai "ziinah" (perhiasan), anak juga bisa mencelakakan. Itulah saat di mana anak hanya dibangga-banggakan sebagai penerus keturunan, tanpa disertai pendidikan Islam hingga kemudian ia menjadi anak durhaka atau malah orangtua yang terseret ke dalam kecelakaan karena anaknya. Misalnya, jika demi anak kemudian orangtua menempuh jalan haram dalam memenuhi keinginannya. Atau membanggakan anak laki-laki hingga seakan-akan menjadi harapan tertinggi dalam kehidupan.
Mari kita lihat sejarah; Pada periode Makkah, ada seorang bernama 'Uqbah bin Abi Mu'aith yang memusuhi Rasulullah. Ia menyebut Rasulullah sebagai "abtar" (orang yang terputus) karena semua anak laki-laki Rasulullah wafat di saat kecil. Namun ternyata, sampai hari ini nama Muhammad terus dikumandangkan tanpa putus meskipun semua putra beliau wafat di waktu kecil. Justru Uqbah lah yang menjadi "abtar" (terputus), baik dari rahmat maupun dari kenangan sejarah.
Dalam ayat yang lain disebutkan bahwa anak takkan bermanfaat kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ
بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS. Asy-Syu'ara : 88-89)
Maka harta dan anak, pada awalnya ia adalah netral. Bisa menjadi sarana ke surga, namun juga bisa menyeret ke neraka ketika kita tidak pandai mengelolanya.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Penggalan kedua ayat 46 dari surat
Al-Kahfi itulah yang sangat menarik. Bahwa jauh di atas perhatian kita kepada
perhiasan dunia berupa harta dan anak-anak, menyibukkan diri dengannya, atau
khawatir terhadap keturunan kita, semestinya kita mengutamakan Al-Baqiyatus
Shalihah.
وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ
أَمَلًا
tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik
pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al-Kahfi : 46)
Apa itu Al-Baqiyatus Shalihah?
Secara bahasa artinya adalah amal-amal yang kekal lagi baik, mengekalkan pelakunya
berada dalam surga. Amal apa yang dimaksud? Ustman bin Affan dan sahabat
lainnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Al-Baqiyatus Shalihah adalah
lima kalimat dzikir:
سبحان الله والحمد لله، ولا إله إلا الله، والله أكبر, ولا حول ولا قوة إلا
بالله العلي العظيم
Maha suci Allah,
Segala puji bagi Allah
Tiada Ilah kecuali Allah
Allah Maha Besar
Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah
Maka berzikir kepada Allah dengan memperbanyak membaca lima kalimat di atas, merupakan amal yang akan mengekalkan pelakunya di dalam surga sehingga amalan tersebut pantas menjadi harapan kita semua.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Sa'id bin Jubair mengungkapkan
penjelasan lain mengenai Al-Baqiyatus Shalihah. Bahwa Al-Baqiyatus
Shalihah itu tidak lain adalah shalat lima waktu. Maka mereka yang
menjaga dan mendirikan shalat lima waktu, niscaya menjadi amal yang akan
mengekalkannya di dalam surga yang abadi.
Ibnu Abbas juga menyampaikan bahwa Al-Baqiyatus Shalihah adalah ucapan yang baik. Entah itu zikir maupun dakwa. Entah itu mengajak kepada yang baik atau mencegah dari yang salah.
Sedangkan pendapat yang lebih umum yang kemudian dipilih Ibnu Jarir adalah yang mengatakan bahwa Al-Baqiyatus Shalihah adalah amal shalih secara umum. Ia meliputi ibadah mahdhah seperti shalat lima waktu, bisa berbentuk amal lisan seperti zikir khususnya lima kalimat di atas, bisa pula ucapan yang baik, dakwah dan segala amal yang bisa dikategorikan sebagai ibadah; baik ibadah khusus maupun ibadah secara umum.
Maka hendaklah kita, seiring dengan nasehat khatib di setiap Jum'at untuk meningkatkan taqwa, kita berupaya memperbanyak amal kesalihan, meningkatkan keimanan, mempertebal keyakinan, menebar manfaat bagi sesama, berinvestasi sebanyak-banyaknya dengan Al-Baqiyatus Shalihah.
Akhirnya, saya berwasiat khususnya
kepada diri saya pribadi dan kepada jama’ah sekalian, agar dalam menyongsong
pergantian tahun baru 2018 Masehi, marilah kita introspeksi diri, marilah kita
merenung, marilah kita menghitung-hitung, apakah kebaikan yang kita lakukan di
tahun 2017 ini lebih banyak, atau malah keburukan yang lebih banyak yang kita
lakukan. Kalau kebaikan yang banyak kita lakukan, marilah
kita pertahankan dan kita tingkatkan di tahun 2018 nanti. Namun, apabila malah
keburukan yang banyak kita lakukan, marilah kita tinggalkan, dan marilah kita
memperbaiki diri untuk memperbanyak Al-Baqiyatus Shalihah. Semoga Allaah selalu merahmati kita semua. Aamiin yaa Rabbal
‘Aalamiin.
أقول قولي هذا و أستغفر الله لي و لكم و لسائر المسلمين و المسلمات من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم .وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar