اَلْحَمْدُ ِللهِ، اَلْحَمْدُ ِللهِ
الَّذِيْ أَحْرَمَ رَجَبَ بِإِسْرَاءِ الرَّسُوْلِ مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
اِلَى الْمَسْجِدِ اْلأقْصَى، وَالَّذِيْ يَأْمُرُنَا بِالتَّقْوَى مْدَّةَ
أُمُوْرِنَا ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ فِيْ كُلِّ أَهْوَالِنَا، أشْهَدْ أنْ
لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ،
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أشْرَفِ عِبَادِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ
وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن. أمَّا بَعْدُ : فَيَا أيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ و
ايَّايَ بِتَقْوَى اللهِ. قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : سُبْحَانَ الَّذِى
أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ
اْلأَقْصَا الَّذِى باَرَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَتِنَا إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ البصير.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah………………….
Marilah kita panjatkan puji Syukur kehadirat
Allah SWT, Tuhan yang Maha Pengasih tak pilih Kasih, Maha Penyayang tak Pandang
Sayang. Tuhan yang telah memberikan kepada kita bermacam-macam nikmat tanpa
memilih yang Ta’at atau yang Durhaka, yang Syukur maupun yang Kufur. Semuanya
diberi Kekuatan, Kesehatan, dan berbagai nikmat yang lainnya, sehingga kita
dapat bekerja, berbuat, dan berusaha untuk mencari kebutuhan dan keperluan
hidup. Dan hal yang seharusnya paling kita syukuri
adalah nikmat umur panjang, sehingga dengan nikmat umur panjang ini, kita masih
dipertemukan dengan salah satu bulan yang dimuliakan, yaitu bulan Rajab.
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada uswah kita Nabi
Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang atas jasa-jasa dan perjuangan
beliau cahaya Islam ini tersampaikan kepada kita, sebab dengan adanya cahaya
Islam tersebut kita terbebaskan dari. Dan semoga shalawat serta salam juga
tercurahkan kepada keluarganya, para sahabatnya dan pengikut-pengikutnya hingga
akhir zaman. Judul Khutbah kali ini adalah Bulan Rajab :
Bulan Haram Penuh Makna
Hadirin Sidang
Jum'at yang Dimuliakan Allah SWT
Tanpa terasa, 3 pekan sudah kita
melewati bulan Rajab di tahun ini. Beraneka kejadian dan peristiwa terus
berlalu silih berganti, mengisi tiap detik, menit, jam, hari dan minggu-minggu
kita. Berbagai kondisi kita lalui dari tahun ke tahun. Ada kebahagiaan yang
kita rayakan dan ada kesedihan yang kita rasakan, namun kita harus tetap hidup
tanpa penyesalan. Kita mesti senantiasa optimis, meski berbagai rintangan
senantiasa menghimpit dan menguras keimanan.
Karena ketaqwaan adalah pangkal dari
segala sikap dan keputusan kita menghadapi problematika dunia, maka marilah
kita selalu senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Marilah
senantiasa kita bertambah percaya, yakin dan menaati perintah-perintah Allah
SWT serta secepat mungkin, sejauh mungkin menghindari larangan-larangan Allah
SWT. Karena hanya dengan ketaqwaanlah kita dapat meniingkatkan kualitas
kehidupan kita. Taqwa dalam arti sebenarnya, bukan taqwa asal merasa takut saja,
namun tindakannya senantiasa tercela di mata Allah. Seperti halnya Rajab adalah
bulan mulia di sisi Allah, maka kita mestilah memuliakannya dengan sungguh-sungguh.
Rasululah SAW
berdabda :
”Sesungguhnya zaman berputar
sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam
setahun terdapat dua belas bulan yang di antaranya terdapat empat bulan yang
dihormati, tiga bulan diantaranya berturut-turut Dzulqaidah, Dzulhijjah,
Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat di antara bulan Jumadil Tsani Tsaniah
dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini secara jelas menunjukkan
bahwa Bulan rajab adalah bulan yang dumuliakan oleh Allah. Maka sebagai
konsekwensi dari ketaqwaan kita kepada Allah dan kepercayaan kita kepada
Rasulullah Muhammad SAW, maka tentulah kita juga memuliakan bulan ini.
Hadirin Jamaah
Jum'at Rahimakumullah
Bagaimana pun juga masa yang akan
datang harus kita hadapi dengan keimanan dan ketakwaan yang melimpah. Apapun kondisi yang telah menimpa kita dalam
waktu-waktu yang lalu, baik yang telah lama maupun yang baru saja terjadi; yang
masih begitu segar dalam ingatan kita, namun esok hari tetaplah misteri.
Mungkin kemarin kita sangat berat dan mengalami kesulitan dalam hidup, namun
bukan berarti kita boleh takut menghadapi fajar esok hari.
Bulan Rajab, sungguh mengajarkan
kepada kita bahwa Allah pasti memiliki rencana, kelak kita akan mensyukuri
sebuah karunia setelah berbagai cobaan yang kita rasakan. ”Paket perjalanan”
Rasulullah di bulan Rajab merupakan sebuah pelajaran sangat berharga bagi kita
bahwa setiap kesusahan dan rintangan dalam menjalankan misi dakwah pasti
digantikan dengan anugerah yang menjadikan hidup kita lebih berkualitas.
Terlebih bahwa setiap anugerah juga
sebenarnya selalu mengandung ujian bagi kita untuk semakin mengintensifkan
segala potensi kita demi mengupayakan keridhoan Allah SWT. Sejarah seputar
peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan palajaran berharga, bagaimana kesusahan dan
kesedihan Rasulullah tergantikan dengan sebuah pesan (berupa sholat lima waktu)
sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Allah SWT
berfirman :
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam
ketetapan Allah di waktu menciptakan langit dan bumi, di antaranya (terdapat)
empat bulan haram. Itulah agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri
dalam bulan-bulan tersebut, dan perangilah kaum musyrikin sebagaimana mereka
pun memerangi kamu, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang
bertakwa.” (QS. At-Taubah, 9:36)
Tafsir Ath-Thabari
menyebutkan bahwa keempat bulan haram yang dimaksud adalah Dzul Qa'dah, Dzul
Hijjah, Muharram dan Rajab. Karenanya, Rasul
dan para Sahabat tidak mengenal
peperangan yang terjadi pada bulan-bulan ini.
Orang-orang tidak
diperkenankan menganiaya dan berkelahi ataupun
berperang pada
bulan-bulan ini. Jika di antara mereka terjadi perselisihan, maka biasanya
ditangguhkan hingga bulan-bulan tersebut telah lewat. Pembalasan dendam di
antara anggota-anggota keluarga yang terluka dan terbunuh juga menunggu
bulan-bulan ini berlalu. Masyarakat jahiliyah pun mengikuti peraturan ini. Lalu
apakah kita sebagai umat Muhammad tidak ingin memuliakan bulan ini?
Hadirin Sidang Jum'at yang Berbahagia
Marilah kita belajar
kepada Sejarah. Sungguh di bulan Rajab ini terdapat sebuah i’tibar (cerminan)
yang sangat nyata untuk kita teladani bersama. Bila mau bercermin kepada
sejarah, maka senyatanya umat Islam akan mendapatkan pelajaran yang sangat
berharga di bulan Rajab. Pelajaran tentang ketabahan dan keyakinan kepada
balasan Allah Yang Maha Bijaksana.
Pada tahun kedelapan dari
kenabian, Rasulullah SAW mendapatkan beberapa cobaan yang teramat berat baginya
dan bagi para pengikutnya. Ujian itu adalah embargo kaum kafir Quraisy dan
sekutunya terhadap umat Islam. Aksi embargo ini masih dijalankan meskipun waktu
telah memasuki bulan Haram. Artinya Nabi beserta para sahabatnya tetap
merasakan penganiayaan dan kedhaliman dari mereka yang biasanya menghentikan
segala aktivitas permusuhan terhadap lawan-lawannya.
Setelah delapan tahun
mendakwahkan agama Allah kepda kaumnya dengan didampingi dan dilindungi oleh
dua orang kuat suku Qurays, yakni pamannya dan istrinya, maka pada tahun ini
Rasulullah harus rela ketika keduanya dipanggil menghadap Sang Khaliq. Dengan
demikian, pada waktu itu Nabi tiada lagi memiliki pembela yang cukup kuat di
hadapan kaumnya sendiri yang memusuhi kebenaran.
Sehingga Rasulullah
kemudian mengijinkan kepada para pengikutnya untuk berhijrah ke Thaif. Namun
rupanya Bani Tsaqif yang menguasai tanah Thaif tidaklah memberikan sambutan
hangat kepada para sahabatnya. Mereka yang datang meminta pertolongan justru
diusir dan dihinakan sedemikian rupa. Mereka dilempari batu hingga harus
kembali dengan kondisi yang memprihatinkan.
Keseluruh cobaan berat ini
dialami Rasulullah dan para sahabatnya pada tahun yang sama, yakni tahun
kedelapan semenjak Rasulullah memproklamirkan dirinya sebagai Nabi akhir zaman.
Atas cobaan yang taramat
berat dan bertubi-tubi ini, maka Allah SWT kemudian memberikan ”sekadar
hiburan” kepada Muhamad SAW yang sedang berkabung dengan segala keadaan dan
perasaannya. Rasulullah menerima ”sepaket perjalanan rekreasi” untuk
menyegarkan kembali ghirroh (Semangat) perjuangannya dalam menegakkan misi
Tauhid di Bumi.
”Paket perjalanan” yang
kemudian disebut sebagai Isra’ Mi’roj ini sejatinya adalah sebuah pesan kepada
seluruh umat Muhammad bahwa, segala macam cobaan yang seberat apa pun haruslah
kita lihat sebagai sebuah permulaan dari akan dianugerahkannya sebuah kemuliaan
kepada kita.
Sidang Jum'at yang dimuliakan Allah
Hal lain yang dapat kita petik dari pelajaran bulan Rajab selanjutnya
adalah perjalanan Rasulullah Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil
Aqsha yang tercover dalam firman Allah SWT :
سُبْحَانَ
الَّذِى أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى
الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَا الَّذِى باَرَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَتِنَا
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ البصير.
”Maha Suci Allah yang telah
memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa,
yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian
dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pendengar lagi
Maha Melihat” (QS. Al Isra’:1)
Adalah sebuah pesan persaudaraan dan
persahabatan di antara para hamba Allah. Bahwa umat Islam sebagai umat terbaik
semestinya senantiasa menunjukkan sikap kedewasaan dan kematangan dalam
berinteraksi dengan umat-umat lain.
Meski Nabi Muhammad SAW dapat saja
langsung menuju langit dari Makkah, namun Allah tetap membawanya menuju
Masjidil Aqsha, pusat peribadahan nabi-nabi sebelumnya. Ini dapat berarti bahwa
umat Islam tidak memiliki larangan untuk berbuat baik terhadap sesama manusia,
sekalipun kepada golongan di luar Islam. Hal ini dikarenakan, Islam menghargai
peraturan-peraturan sebelum Islam, seperti halnya khitan yang telah
disyariatkan sejak zaman Nabi Ibrahim AS.
Dalam skala intern umat Islam, kita
semestinya senantiasa menjaga ikatan persaudaraan dan silaturrahim demi
memperkuat ketaqwaan, keimanan dan persaudaraan sesama Muslim. Dengan demikian
maka, Bulan Rajab adalah bulan mulia yang harus kita sambut dengan menambahkan
ketaqwaan dan keikhlasan.
Kita harus rajin-rajin melaksanakan
sholat lima waktu yang merupakan oleh-oleh dari Isro’ Mi’roj Rasulullah SAW di
bulan Rajab tahun kedelapan dari kenabian beliau. Kita harus tegar menghadapi
hidup meskipun hidup penuh dengan cobaan dan rintangan. Umat Islam harus
senantiasa optiomis dan yakin pada janji Allah, akan kebahagiaan dunia dan
akhirat bagi siapa pun hamba-Nya yang senantiasa meningkatkan ketaqwaan, karena
demikianlah pesan bulan Rajab.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ
الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ
تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أقُوْلُ قَوْلِي
هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Tidak ada komentar:
Posting Komentar