BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kemampuan
berbahasa Indonesia adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi masyarakat
Indonesia, tidak terkecuali murid sekolah dasar. Dalam bidang pendidikan dan
pengajaran di sekolah dasar, bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran pokok.
Pelajaran bahasa Indonesia diajarkan kepada murid berdasarkan kurikulum yang
berlaku, yang di dalamnya (kurikulum pendidikan dasar) tercantum beberapa
tujuan pembelajaran. Salah satu tujuan pokoknya adalah murid mampu dan terampil
berbahasa Indonesia dengan baik dan benar setelah mengalami proses belajar
mengajar di sekolah.
Keterampilan
berbahasa itu tidak saja meliputi satu aspek, tetapi di dalamnya termasuk
kemampuan membaca, menulis, mendengarkan (menyimak), dan berbicara. Dalam
proses pemerolehan dan penggunaannya, keterampilan berbahasa tersebut saling
berkaitan. Bahasa tulis mencakup sejumlah unsur-unsur bahasa, salah satunya
adalah mengenai ejaan yang mencakup macam-macam huruf, berbagai kata, dan aneka
tanda baca. Ada beberapa hal yang perlu dikemukakan, khususnya berbagai
persoalan yang akan dibahas dalam makalah ini. Hal-hal yang dimaksud adalah
pemakaian huruf, dan penulisan kata pada bahasa Indonesia yang sesuai dengan
Ejaan Yang Disempurnakan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi pokok permasalahan yang akan dibahas
dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
- Bagaimana pemakaian huruf pada bahasa Indonesia
yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan?
- Bagaimana pemakaian kata pada bahasa Indonesia yang
sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan?
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
1.2 PEMAKAIAN HURUF
- Huruf Abjad
Huruf
abjad ada dua puluh enam huruf, yaitu: a, b, c, d, e, f, g, h, i, j,k, l, m, n,
o, p, q, r, s, t, u v, w, x, y, z.
- Huruf Vokal
Huruf
yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia, terdiri atas huruf a, e*, i, o,
dan u.
* Untuk pengucapan
(pelafalan) kata yang benar, diakritik
berikut ini dapat digunakan jika ejaan kata itu dapat menimbulkan keraguan.
berikut ini dapat digunakan jika ejaan kata itu dapat menimbulkan keraguan.
a)
Diakritik (é) dilafalkan [e].
Misalnya:
Anak-anak bermain di teras (téras).
Kedelai merupakan bahan pokok kecap (kécap).
b)
Diakritik (è) dilafalkan [ɛ].
Misalnya:
Kami menonton flm seri (sèri).
Pertahanan militer (militèr) Indonesia cukup kuat.
c)
Diakritik (ê) dilafalkan [ə].
Misalnya:
Pertandingan itu berakhir seri (sêri).
Upacara itu dihadiri pejabat teras (têras) Bank
Indonesia.
Kecap (kêcap)
dulu makanan itu.
- Huruf Konsonan
Huruf
yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b,
c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q*, r, s, t, v, w, x*, y, z.
* Huruf q dan x khusus digunakan untuk nama
diri dan keperluan ilmu. Huruf x pada posisi awal kata diucapkan [s].
- Huruf Diftong
Di
dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, ei,
dan oi.
Huruf Diftong
|
Contoh Pemakaian dalam Kata
|
||
Posisi Awal
|
Posisi Tengah
|
Posisi Akhir
|
|
ai
|
Aileron
|
balairung
|
pandai
|
au
|
Autodidak
|
taufik
|
harimau
|
ei
|
Eigendom
|
geiser
|
survei
|
oi
|
-
|
boikot
|
amboi
|
- Gabungan Huruf Konsonan
Gabungan
huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.
Huruf Diftong
|
Contoh Pemakaian dalam Kata
|
||
Posisi Awal
|
Posisi Tengah
|
Posisi Akhir
|
|
kh
|
Khusus
|
akhir
|
tarikh
|
ng
|
Ngarai
|
bangun
|
senang
|
ny
|
Nyata
|
banyak
|
-
|
sy
|
Syarat
|
musyawarah
|
arasy
|
- Huruf Kapital
1.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.
Misalnya:
Apa maksudnya?
Dia
membaca buku.
2.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama
orang,
termasuk julukan.
termasuk julukan.
Misalnya:
Amir Hamzah Halim Perdanakusumah
Dewi
Sartika Wage
Rudolf Supratma
Catatan:
(1)
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama
orang yang merupakan nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
- ikan mujair -
5 ampere
- mesin diesel -
10 volt
(2)
Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf
pertama kata yang bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama kata tugas.
pertama kata yang bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama kata tugas.
Misalnya:
- Abdul Rahman bin Zaini - Charles Adriaan van Ophuijsen
- Siti Fatimah binti Salim - Ayam Jantan dari Timur
- Indani boru Sitanggang - Mutiara dari Selatan
3.
Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah,
Nak!”
“Mereka berhasil meraih medali emas,” katanya.
“Besok pagi,” kata dia, “mereka akan berangkat.”
4.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata
nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan
kata ganti untuk Tuhan
nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan
kata ganti untuk Tuhan
Misalnya:
- Islam - Kristen
- Alquran - Alkitab
- Hindu - Weda
- Allah - Tuhan
- Allah akan
menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.
|
5.
a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan,
keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar
akademik yang mengikuti nama orang.
Misalnya:
- Sultan
Hasanuddin - Imam
Hambali
- Haji Agus Salim - Nabi Ibrahim
- Raden Ajeng
Kartini - Doktor
Mohammad Hatta
|
b. Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan,
keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang dipakai sebagai
sapaan.
Misalnya:
- Selamat datang, Yang Mulia. -
Mohon izin, Jenderal
- Semoga berbahagia, Sultan. -
Selamat
pagi, Dokter
6.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama
jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti
nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
- Wakil Presiden
Adam Malik
- Proklamator
Republik Indonesia (Soekarno-Hatta)
7.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa,
suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
bangsa Indonesia
suku Gorontalo
bahasa Gorontalo
Catatan:
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan, tidak ditulis dengan huruf awal kapital.
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan, tidak ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
|
8.
a.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama
nama tahun, bulan, hari, dan hari besar atau hari raya.
Misalnya:
- tahun Hijriah -
tarikh Masehi
- bulan Agustus -
bulan Maulid
b.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama
peristiwa sejarah.
Misalnya:
Misalnya:
Perang Dunia
II
Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia
Catatan:
Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama, tidak ditulis dengan huruf kapital.
Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama, tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan
bangsa Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang
dunia
9.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
- Jakarta - Sungai Bone -
Dataran Tinggi
- Pulau Miangas - Jazirah Arab - Danau Toba
- Bukit
Barisan - Jalan
Sulawesi - Selat Lombok
Catatan:
(1)
Huruf pertama
nama geografi yang bukan nama diri, tidak ditulis dengan huruf
kapital.
Misalnya:
- berlayar ke teluk
- mandi di sungai
- menyeberangi selat
- berenang di danau
(2)
Huruf pertama
nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis, tidak ditulis dengan
huruf kapital.
Misalnya:
- jeruk bali
(Citrus maxima)
- kacang bogor
(Voandzeia subterranea)
Nama yang
disertai nama geografi dan merupakan nama jenis dapat dikontraskan atau
disejajarkan dengan nama jenis lain dalam kelompoknya.
Misalnya:
-
Kita mengenal berbagai macam gula,
seperti gula jawa, gula pasir, gula tebu, gula aren,
dan gula anggur.
-
Kunci inggris, kunci tolak,
dan kunci ring mempunyai fungsi yang berbeda.
Contoh berikut
bukan nama jenis:
-
Dia mengoleksi batik Cirebon,
batik Pekalongan, batik Solo, batik Yogyakarta, dan batik Madura
-
Selain film Hongkong, juga akan diputar film India, film Korea,
dan film Jepang.
-
Murid-murid sekolah dasar itu menampilkan tarian Sumatera Selatan,
tarian Kalimantan Timur, dan tarian Sulawesi Selatan.
10. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur bentuk ulang
sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen, kecuali
kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.
Misalnya:
Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan
Rakyat Republik Indonesia
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana
11. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang sempurna)
di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan
surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk,
yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria
ke Jalan Lain ke Roma.
Ia menyajikan makalah “Penerapan Asas-Asas
Hukum Perdata”
12. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, atau sapaan.
Misalnya:
S.H. sarjana hukum
M.A. master of arts
Sdr. saudara
M.Si.
magister sains
K.H. kiai haji
13. Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak,
ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang
dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
“Kapan Bapak berangkat?” tanya Hasan.
Dendi bertanya, “Itu apa, Bu?”
“Hai, Kutu Buku, sedang membaca apa?”
Catatan:
(1)
Istilah kekerabatan berikut bukan merupakan penyapaan atau
pengacuan
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah
berkeluarga.
(2)
Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
- Sudahkah Anda tahu? - Siapa nama Anda?
- Huruf Miring
1.
Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama
majalah, atau nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam
daftar pustaka.
Misalnya:
Saya sudah membaca buku Salah Asuhan karangan
Abdoel Moeis.
Majalah Poedjangga Baroe menggelorakan semangat
kebangsaan.
Pusat Bahasa. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat
Bahasa. Edisi Keempat (Cetakan Kedua). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
2.
Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan
huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat.
Misalnya:
Huruf terakhir kata abad adalah d.
Dia tidak diantar, tetapi mengantar.
3.
Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan
dalam bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
Upacara peusijuek (tepung tawar) menarik perhatian
wisatawan asing yang berkunjung ke Aceh.
Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
Weltanschauung bermakna
‘pandangan dunia’.
Ungkapan bhinneka tunggal ika dijadikan semboyan
negara Indonesia.
negara Indonesia.
Catatan:
(1)
Nama diri, seperti nama orang, lembaga, atau organisasi, dalam bahasa asing
atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring.
(2)
Dalam naskah tulisan tangan atau mesin tik (bukan komputer), bagian yang
akan dicetak miring ditandai dengan garis bawah.
(3)
Kalimat atau teks berbahasa asing atau berbahasa daerah yang dikutip secara
langsung dalam teks berbahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring.
- Huruf Tebal
1.
Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang
sudah ditulis miring.
Misalnya:
Huruf dh, seperti pada kata Ramadhan,
tidak terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia.
Kata et dalam ungkapan ora et labora berarti
‘dan’.
2.
Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan bagian-bagian
karangan, seperti judul buku, bab, atau subbab.
1.2 Penulisan Kata
- Kata Dasar
Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
- Kantor pajak penuh sesak.
- Saya pergi ke sekolah.
- Buku itu sangat tebal.
- Kata Berimbuhan
1.
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan
dan akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:
berjalan, berkelanjutan, mempermudah, gemetar, lukisan, kemauan, perbaikan.
berjalan, berkelanjutan, mempermudah, gemetar, lukisan, kemauan, perbaikan.
Catatan:
Imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti -isme, -man, -wan, atau -wi, ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti -isme, -man, -wan, atau -wi, ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:
Sukuisme, seniman, kamerawan, gerejawi
2.
Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang
mengikutinya
Misalnya:
adibusana
aerodinamika antarkota antibiotik awahama bikarbonat biokimia demoralisasi dwiwarna ekabahasa ekstrakurikuler |
infrastruktur
inkonvensional kontraindikasi mancanegara multilateral narapidana nonkolaborasi paripurna pascasarjana pramusaji prasejarah |
proaktif
purnawirawan semiprofesional subbagian swadaya telewicara transmigrasi tunakarya tritunggal tansuara ultramodern |
Catatan:
(1)
Bentuk terikat
yang diikuti oleh kata yang berhuruf awal kapital atau singkatan yang berupa
huruf kapital dirangkaikan dengan tanda hubung (-).
Misalnya:
non-Indonesia, pan-Afrikanisme, pro-Barat, non-ASEAN.
non-Indonesia, pan-Afrikanisme, pro-Barat, non-ASEAN.
(2)
Bentuk maha yang
diikuti kata turunan yang mengacu pada nama atau sifat Tuhan ditulis terpisah dengan
huruf awal kapital.
Misalnya:
Marilah kita bersyukur
kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Kita berdoa
kepada Tuhan Yang Maha Pengampu.
3.
Bentuk maha yang diikuti kata
dasar yang mengacu kepada nama atau sifat Tuhan, kecuali kata esa,
ditulis serangkai.
Misalnya:
Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
Misalnya:
Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
- Bentuk Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis dengan
menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:
anak-anak,
buku-buku, hati-hati, kuda-kuda, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur,
serba-serbi, biri-biri, cumi-cumi, kupu-kupu, kura-kura, berjalan-jalan,
mencari-cari, terus-menerus, porak-poranda, tunggang-langgang
Catatan:
Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama. Misalnya:
Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama. Misalnya:
surat kabar
kapal barang rak buku kereta api cepat |
→
→ → → |
surat-surat
kabar
kapal-kapal barang rak-rak buku kereta-kereta api cepat |
- Gabungan Kata
1.
Unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk,
termasuk istilah khusus, ditulis terpisah.
Misalnya:
- duta besar -
model linear
- kambing hitam -
persegi panjang
- orang tua -
rumah sakit jiwa
- simpang empat -
meja tulis
2.
Gabungan kata yang dapat menimbulkan salah pengertian
ditulis dengan membubuhkan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:
- anak-istri pejabat - anak istri-pejabat
- anak-istri pejabat - anak istri-pejabat
- ibu-bapak kami - ibu bapak-kami
- buku-sejarah baru - buku sejarah-baru
3.
Gabungan kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah
jika mendapat awalan atau akhiran.
Misalnya:
bertepuk tangan, menganak sungai, garis bawahi, sebar luaskan.
bertepuk tangan, menganak sungai, garis bawahi, sebar luaskan.
4.
Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus
ditulis serangkai.
Misalnya:
dilipatgandakan, menggarisbawahi, menyebarluaskan.
dilipatgandakan, menggarisbawahi, menyebarluaskan.
5.
Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai.
Misalnya:
acapkali, hulubalang, radioaktif, adakalanya, kacamata, saptamarga, apalagi, kasatmata, saputangan, bagaimana, kilometer, saripati, barangkali, manasuka, sediakala, beasiswa, matahari, segitiga, belasungkawa, olahraga, sukacita, bilamana padahal sukarela, bumiputra, peribahasa, syahbandar, darmabakti, perilaku, wiraswasta, dukacita, puspawarna.
acapkali, hulubalang, radioaktif, adakalanya, kacamata, saptamarga, apalagi, kasatmata, saputangan, bagaimana, kilometer, saripati, barangkali, manasuka, sediakala, beasiswa, matahari, segitiga, belasungkawa, olahraga, sukacita, bilamana padahal sukarela, bumiputra, peribahasa, syahbandar, darmabakti, perilaku, wiraswasta, dukacita, puspawarna.
- Pemenggalan Kata
1.
Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
a.
Jika di tengah kata terdapat huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya
dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya: bu-ah, ma-in, ni-at, sa-at.
b.
Huruf diftong ai, au, ei, dan oi tidak
dipenggal.
Misalnya: pan-dai, au-la, sau-da-ra, sur-vei,
am-boi.
c.
Jika di tengah kata dasar terdapat huruf
konsonan(termasuk gabungan huruf konsonan) di antara dua huruf vokal, pemenggalannya
dilakukan sebelum huruf konsonan itu.
Misalnya: ba-pak, la-wan, de-ngan, ke-nyang,
mu-ta-khir, mu-sya-wa-rah
d.
Jika di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan
yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.
Misalnya: Ap-ril, swas-ta, makh-luk,
man-di, sang-gup, som-bong
e.
Jika di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan
atau lebih yang masing-masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya dilakukan
di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya: ul-tra, in-fra, ben-trok,
in-stru-me
Catatan:
Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak dipenggal.
Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak dipenggal.
Misalnya: bang-krut,
bang-sa, ba-nyak, ikh-las, kong-res, makh-luk,
masy-hur, sang-gup
2.
Pemenggalan
kata turunan sedapat-dapatnya dilakukan di antara bentuk dasar dan unsur
pembentuknya.
Misalnya:
ber-jalan
mem-bantu di-ambil ter-bawa per-buat makan-an letak-kan pergi-lah apa-kah kekuat-an |
mem-pertanggungjawabkan
memper-tanggungjawabkan mempertanggung-jawabkan mempertanggungjawab-kan me-rasakan merasa-kan per-buatan perbuat-an ke-kuatan |
Catatan:
(1)
Pemenggalan
kata berimbuhan yang bentuk dasarnya mengalami perubahan dilakukan seperti pada
kata dasar.
Misalnya: me-nu-tup,
me-ma-kai, me-nya-pu, me-nge-cat, pe-mi-kir, pe-no-long, pe-nga-rang,
pe-nge-tik, pe-nye-but.
(2)
Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada kata
dasar.
Misalnya: ge-lem-bung, ge-mu-ruh, ge-ri-gi, te-lun-juk
(3)
Pemenggalan kata yang menyebabkan munculnya satu huruf di
awal atau akhir baris tidak dilakukan.
Misalnya:
Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah
disampaikan ….
Walaupun cuma-cuma, mereka tidak mau mengambil
makanan itu.
3.
Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan
salah satu unsurnya itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya
dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap unsur gabungan itu dipenggal seperti
pada kata dasar.
Misalnya:
biografi bio-grafi bi-o-gra-fi
biografi bio-grafi bi-o-gra-fi
biodata bio-data
bi-o-da-ta
fotografi foto-grafi
fo-to-gra-fi
fotokopi foto-kopi
fo-to-ko-pi
introspeksi intro-speksi
in-tro-spek-si
4.
Nama orang yang terdiri atas dua unsur atau lebih pada
akhir baris dipenggal di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:
Lagu “Indonesia Raya” digubah oleh Wage Rudolf Supratman.
Buku Layar Terkembang dikarang oleh Sutan Takdir Alisjahbana.
5.
Singkatan nama diri dan gelar yang terdiri atas dua huruf
atau lebih tidak dipenggal.
Misalnya:
Ia bekerja di DLLAJR.
Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.Ng. Rangga
Warsita.
Catatan:
Penulisan berikut dihindari.
Ia bekerja di DLL-AJR.
Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.-Ng.
Rangga Warsita.
f.
Kata Depan
Kata
depan, seperti di, ke, dan dari, ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya.
Misalnya:
Kain itu disimpan di dalam lemari.
Mari kita berangkat ke kantor.
Ia berasal dari Pulau Penyengat.
g.
Partikel
1.
Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis
serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik!
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?
2.
Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang
mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat
mengatasinya dengan bijaksana.
Jika kita hendak pulang tengah malam pun,
kendaraan masih tersedia.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum
pernah berkunjung ke rumahku.
Catatan:
Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung
ditulis serangkai.
ditulis serangkai.
Misalnya:
Meskipun sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.
Meskipun sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.
Dia tetap bersemangat walaupun lelah.
Adapun penyebab kemacetan itu belum diketahui.
Bagaimanapun pekerjaan itu harus
selesai minggu depan.
3.
Partikel per yang berarti ‘demi’, ‘tiap’,
atau ‘mulai’ ditulis terpisah
dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Mereka masuk ke dalam ruang rapat satu per satu.
Karyawan itu mendapat kenaikan gaji per 1
Januari.
h.
Singkatan dan Akronim
1.
Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau
pangkat diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan itu.
Misalnya:
A.H. Nasution Abdul Haris Nasution
W.R. Supratman Wage Rudolf Supratman
M.B.A. master
of business administration
S.Sos. sarjana sosial
Sdr. Saudara
|
2.
a. Singkatan
yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga
pemerintah dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau organisasi,
serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa
tanda titik.
Misalnya:
NKRI Negara
Kesatuan Republik Indonesia
IAIN Institut
Agama Islam Negeri
KUHP Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana
b. Singkatan
yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan
huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
PT perseroan
terbatas
KTP kartu
tanda penduduk
NIP nomor
induk pegawai
3.
Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau
lebih diikuti dengan tanda titik.
Misalnya: hlm. (halaman), dll. (dan
lain-lain), dsb. (dan sebagainya), dst. (dan seterusnya), sda. (sama dengan di
atas), yth. (yang terhormat), ttd. (tertanda), dkk. (dan kawan-kawa), ybs.
(yang bersangkutan)
4.
Singkatan
yang terdiri atas dua huruf yang lazim dipakai dalam surat-menyurat
masing-masing diikuti oleh tanda titik.
Misalnya:
a.n. (atas nama), d.a. (dengan alamat), u.b. (untuk beliau), u.p. (untuk
perhatian), s.d. (sampai dengan)
5.
Lambang
kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti
tanda titik.
Misalnya:
Cu (kuprum), cm (sentimeter), kVA (kilovolt-ampere), l (liter), kg (kilogram), Rp (rupiah)
6.
Akronim
nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata
ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
BIG (Badan Informasi Geospasial), BIN (Badan Intelijen
Negara), LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia),
LAN (Lembaga Administrasi Negara)
7.
Akronim
nama diri yang berupa gabungan suku kata atau
gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis
dengan huruf awal kapital.
gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis
dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
Bulog (Badan Urusan Logistik), Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional), Kowani (Kongres Wanita Indonesia), Kalteng (Kalimantan Tengah),
Mabbim (Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia), Suramadu
(Surabaya-Madura)
8.
Akronim
bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan
suku kata ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
iptek
ilmu
pengetahuan dan teknologi
pemilu
pemilihan
umum
puskesmas
pusat
kesehatan masyarakat
rapim
rapat
pimpinan
rudal
peluru kendali
tilang
bukti pelanggara
BAB III
PENUTUP
1.1
Kesimpulan
Setelah melakukan pembahasan dan
pengkajian mengenai Aturan
Penulisan Angka dan Lambang Bilangan dan Aturan Penulisan Tanda Baca, maka
penulis menyimpulkan hal-hal sebagai sebagai berikut:
1)
Bahwa dalam pemakaian huruf dan
penulisan kata, kita harus
berpedoman dan berdasarkan pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
disusun oleh Panitia Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. Agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan
terutama dalam penulisan karya tulis ilmiah, dalam hal ini yang berhubungan
dengan pemakaian
huruf dan penulisan kata.
2)
Dalam aturan pemakaian huruf yang terdapat dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, kita mengenal
beberapa pembahasan
tentang Huruf Abjad,
Huruf
Vokal, Huruf Konsonan, Huruf Diftong,
Gabungan
Huruf Konsonan, Huruf Kapital, Huruf
Miring,
dan Huruf Tebal.
3)
Sedangkan
untuk aturan penulisan kata, maka kita harus bias memahami dan mengerti apa itu
Kata Dasar, Kata Berimbuhan, Bentuk Kata
Ulang, Gabungan Kata, Pemenggalan Kata, Kata Depan, Partikel, dan Singkatan dan Akronim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar