Sabtu, 29 Juni 2019

Makalah: Aturan Penulisan Huruf dan Aturan Pemakaian Kata


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
            Kemampuan berbahasa Indonesia adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi masyarakat Indonesia, tidak terkecuali murid sekolah dasar. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran di sekolah dasar, bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran pokok. Pelajaran bahasa Indonesia diajarkan kepada murid berdasarkan kurikulum yang berlaku, yang di dalamnya (kurikulum pendidikan dasar) tercantum beberapa tujuan pembelajaran. Salah satu tujuan pokoknya adalah murid mampu dan terampil berbahasa Indonesia dengan baik dan benar setelah mengalami proses belajar mengajar di sekolah.
            Keterampilan berbahasa itu tidak saja meliputi satu aspek, tetapi di dalamnya termasuk kemampuan membaca, menulis, mendengarkan (menyimak), dan berbicara. Dalam proses pemerolehan dan penggunaannya, keterampilan berbahasa tersebut saling berkaitan. Bahasa tulis mencakup sejumlah unsur-unsur bahasa, salah satunya adalah mengenai ejaan yang mencakup macam-macam huruf, berbagai kata, dan aneka tanda baca. Ada beberapa hal yang perlu dikemukakan, khususnya berbagai persoalan yang akan dibahas dalam makalah ini. Hal-hal yang dimaksud adalah pemakaian huruf, dan penulisan kata pada bahasa Indonesia yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan.

1.2  Rumusan Masalah
            Adapun yang menjadi pokok permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana pemakaian huruf pada bahasa Indonesia yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan?
  2. Bagaimana pemakaian kata pada bahasa Indonesia yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan?


BAB II
PEMBAHASAN

1.2  PEMAKAIAN HURUF
  1. Huruf Abjad
            Huruf abjad ada dua puluh enam huruf, yaitu: a, b, c, d, e, f, g, h, i, j,k, l, m, n, o, p, q, r, s, t, u v, w, x, y, z.
  1. Huruf Vokal
            Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia, terdiri atas huruf a, e*, i, o, dan u.
* Untuk pengucapan (pelafalan) kata yang benar, diakritik
berikut ini dapat digunakan jika ejaan kata itu dapat menimbulkan keraguan.
a)         Diakritik (é) dilafalkan [e].
Misalnya:
Anak-anak bermain di teras (téras).
Kedelai merupakan bahan pokok kecap (kécap).
b)        Diakritik (è) dilafalkan [ɛ].
Misalnya:
Kami menonton flm seri (sèri).
Pertahanan militer (militèr) Indonesia cukup kuat.
c)         Diakritik (ê) dilafalkan [ə].
Misalnya:
Pertandingan itu berakhir seri (sêri).
Upacara itu dihadiri pejabat teras (têras) Bank Indonesia.
Kecap (kêcap) dulu makanan itu.
  1. Huruf Konsonan
            Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q*, r, s, t, v, w, x*, y, z.
*     Huruf q dan x khusus digunakan untuk nama diri dan keperluan ilmu. Huruf x pada posisi awal kata diucapkan [s].

  1. Huruf Diftong
            Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, ei, dan oi.
Huruf Diftong
Contoh Pemakaian dalam Kata
Posisi Awal
Posisi Tengah
Posisi Akhir
ai
Aileron
balairung
pandai
au
Autodidak
taufik
harimau
ei
Eigendom
geiser
survei
oi
-
boikot
amboi

  1. Gabungan Huruf Konsonan
            Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.
Huruf Diftong
Contoh Pemakaian dalam Kata
Posisi Awal
Posisi Tengah
Posisi Akhir
kh
Khusus
akhir
tarikh
ng
Ngarai
bangun
senang
ny
Nyata
banyak
-
sy
Syarat
musyawarah
arasy

  1. Huruf Kapital
1.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.
Misalnya:
Apa maksudnya?
Dia membaca buku.
2.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang,
termasuk julukan.
Misalnya:
Amir Hamzah                    Halim Perdanakusumah
Dewi Sartika                     Wage Rudolf Supratma


Catatan:
(1)   Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang merupakan nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
- ikan mujair                            - 5 ampere
- mesin diesel                           - 10 volt
(2)   Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf
pertama kata yang bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama kata tugas.
Misalnya:
- Abdul Rahman bin Zaini      - Charles Adriaan van Ophuijsen
- Siti Fatimah binti Salim        - Ayam Jantan dari Timur
- Indani boru Sitanggang        - Mutiara dari Selatan
3.      Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”
Mereka berhasil meraih medali emas,” katanya.
Besok pagi,” kata dia, “mereka akan berangkat.”
4.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata
nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan
kata ganti untuk Tuhan
Misalnya:
- Islam                   - Kristen
- Alquran               - Alkitab
- Hindu                  - Weda
- Allah                    - Tuhan
- Allah akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.

a.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.
 
- Ya Tuhan, bimbinglah hamba-Mu ke jalan yang Engkau beri rahmat.
5.       a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.
Misalnya:
- Sultan Hasanuddin                - Imam Hambali
- Haji Agus Salim                    - Nabi Ibrahim
- Raden Ajeng Kartini             - Doktor Mohammad Hatta

b.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan.
Misalnya:
- Selamat datang, Yang Mulia.                   - Mohon izin, Jenderal
- Semoga berbahagia, Sultan.                     - Selamat pagi, Dokter


 
- Agung Permana, Sarjana Hukum

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan.
Misalnya:
- Selamat datang, Yang Mulia.                   - Mohon izin, Jenderal
- Semoga berbahagia, Sultan.                     - Selamat pagi, Dokter

6.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
- Wakil Presiden Adam Malik
- Proklamator Republik Indonesia (Soekarno-Hatta)
7.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
bangsa Indonesia
suku Gorontalo
bahasa Gorontalo
Catatan:
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan, tidak ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan

a.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari besar atau hari raya.
 
8.       a.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari besar atau hari raya.
Misalnya:
- tahun Hijriah                         - tarikh Masehi
- bulan Agustus                       - bulan Maulid
b.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah.
Misalnya:
Perang Dunia II
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Catatan:
Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama, tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia
9.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
- Jakarta                            - Sungai Bone              - Dataran Tinggi
- Pulau Miangas                - Jazirah Arab              - Danau Toba
- Bukit Barisan                  - Jalan Sulawesi           - Selat Lombok
Catatan:
(1)   Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri, tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
- berlayar ke teluk                    - mandi di sungai
- menyeberangi selat               - berenang di danau
(2)   Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis, tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
- jeruk bali (Citrus maxima)
- kacang bogor (Voandzeia subterranea)
Nama yang disertai nama geografi dan merupakan nama jenis dapat dikontraskan atau disejajarkan dengan nama jenis lain dalam kelompoknya.
Misalnya:
-          Kita mengenal berbagai macam gula, seperti gula jawa, gula pasir, gula tebu, gula aren, dan gula anggur.
-          Kunci inggris, kunci tolak, dan kunci ring mempunyai fungsi yang berbeda.

Contoh berikut bukan nama jenis:
-          Dia mengoleksi batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Solo, batik Yogyakarta, dan batik Madura
-          Selain film Hongkong, juga akan diputar film India, film Korea, dan film Jepang.
-          Murid-murid sekolah dasar itu menampilkan tarian Sumatera Selatan, tarian Kalimantan Timur, dan tarian Sulawesi Selatan.

10.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.
Misalnya:
Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
11.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Ia menyajikan makalah “Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata”
12.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, atau sapaan.
Misalnya:
S.H. sarjana hukum
M.A. master of arts
Sdr. saudara
M.Si. magister sains
K.H. kiai haji
13.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
“Kapan Bapak berangkat?” tanya Hasan.
Dendi bertanya, “Itu apa, Bu?”
“Hai, Kutu Buku, sedang membaca apa?”
Catatan:
(1)   Istilah kekerabatan berikut bukan merupakan penyapaan atau pengacuan
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
(2)   Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
- Sudahkah Anda tahu?                       - Siapa nama Anda?

  1. Huruf Miring
1.      Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Saya sudah membaca buku Salah Asuhan karangan Abdoel Moeis.
Majalah Poedjangga Baroe menggelorakan semangat kebangsaan.
Pusat Bahasa. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Keempat (Cetakan Kedua). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

2.      Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat.
Misalnya:
Huruf terakhir kata abad adalah d.
Dia tidak diantar, tetapi mengantar.
3.      Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
Upacara peusijuek (tepung tawar) menarik perhatian wisatawan asing yang berkunjung ke Aceh.
Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
Weltanschauung bermakna ‘pandangan dunia’.
Ungkapan bhinneka tunggal ika dijadikan semboyan
negara Indonesia.

Catatan:
(1)    Nama diri, seperti nama orang, lembaga, atau organisasi, dalam bahasa asing atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring.
(2)    Dalam naskah tulisan tangan atau mesin tik (bukan komputer), bagian yang akan dicetak miring ditandai dengan garis bawah.
(3)    Kalimat atau teks berbahasa asing atau berbahasa daerah yang dikutip secara langsung dalam teks berbahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring.

  1. Huruf Tebal
1.   Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring.
Misalnya:
Huruf dh, seperti pada kata Ramadhan, tidak terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia.
Kata et dalam ungkapan ora et labora berarti ‘dan’.
2.    Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan bagian-bagian karangan, seperti judul buku, bab, atau subbab.

1.2  Penulisan Kata
  1. Kata Dasar
Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
- Kantor pajak penuh sesak.
- Saya pergi ke sekolah.
- Buku itu sangat tebal.
  1. Kata Berimbuhan
1.      Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:
berjalan, berkelanjutan, mempermudah, gemetar, lukisan, kemauan, perbaikan.

Catatan:
Imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti -isme, -man, -wan, atau -wi, ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:
Sukuisme, seniman, kamerawan, gerejawi
2.      Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya
Misalnya:
adibusana
aerodinamika
antarkota
antibiotik
awahama
bikarbonat
biokimia
demoralisasi
dwiwarna
ekabahasa
ekstrakurikuler
infrastruktur
inkonvensional
kontraindikasi
mancanegara
multilateral
narapidana
nonkolaborasi
paripurna
pascasarjana
pramusaji
prasejarah
proaktif
purnawirawan
semiprofesional
subbagian
swadaya
telewicara
transmigrasi
tunakarya
tritunggal
tansuara
ultramodern

Catatan:
(1)    Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang berhuruf awal kapital atau singkatan yang berupa huruf kapital dirangkaikan dengan tanda hubung (-).
Misalnya:
non-Indonesia, pan-Afrikanisme, pro-Barat, non-ASEAN.
(2)    Bentuk maha yang diikuti kata turunan yang mengacu pada nama atau sifat Tuhan ditulis terpisah dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampu.
3.      Bentuk maha yang diikuti kata dasar yang mengacu kepada nama atau sifat Tuhan, kecuali kata esa, ditulis serangkai.
Misalnya:
Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
  1. Bentuk Kata Ulang
            Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:
anak-anak, buku-buku, hati-hati, kuda-kuda, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, serba-serbi, biri-biri, cumi-cumi, kupu-kupu, kura-kura, berjalan-jalan, mencari-cari, terus-menerus, porak-poranda, tunggang-langgang

Catatan:
Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama. Misalnya:
surat kabar
kapal barang
rak buku
kereta api cepat



surat-surat kabar
kapal-kapal barang
rak-rak buku
kereta-kereta api cepat

  1. Gabungan Kata
1.      Unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah.
Misalnya:
- duta besar                       - model linear
- kambing hitam                - persegi panjang
- orang tua                         - rumah sakit jiwa
- simpang empat                - meja tulis
2.      Gabungan kata yang dapat menimbulkan salah pengertian ditulis dengan membubuhkan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:
- anak-istri pejabat                        - anak istri-pejabat
- ibu-bapak kami                           - ibu bapak-kami
- buku-sejarah baru                       - buku sejarah-baru
3.      Gabungan kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah jika mendapat awalan atau akhiran.
Misalnya:
bertepuk tangan, menganak sungai, garis bawahi, sebar luaskan.
4.      Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai.
Misalnya:
dilipatgandakan, menggarisbawahi, menyebarluaskan.
5.      Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai.
Misalnya:
acapkali, hulubalang, radioaktif, adakalanya, kacamata, saptamarga, apalagi, kasatmata, saputangan, bagaimana, kilometer, saripati, barangkali, manasuka, sediakala, beasiswa, matahari, segitiga, belasungkawa, olahraga, sukacita, bilamana padahal sukarela, bumiputra, peribahasa, syahbandar, darmabakti, perilaku, wiraswasta, dukacita, puspawarna.

  1. Pemenggalan Kata
1.    Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
a.    Jika di tengah kata terdapat huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya: bu-ah, ma-in, ni-at, sa-at.
b.   Huruf diftong ai, au, ei, dan oi tidak dipenggal.
Misalnya: pan-dai, au-la, sau-da-ra, sur-vei, am-boi.
c.    Jika di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan(termasuk gabungan huruf konsonan) di antara dua huruf vokal, pemenggalannya dilakukan sebelum huruf konsonan itu.
Misalnya: ba-pak, la-wan, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir, mu-sya-wa-rah
d.   Jika di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.
Misalnya: Ap-ril, swas-ta, makh-luk, man-di, sang-gup, som-bong
e.    Jika di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan atau lebih yang masing-masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya: ul-tra, in-fra, ben-trok, in-stru-me
Catatan:
Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak dipenggal.
Misalnya: bang-krut, bang-sa, ba-nyak, ikh-las, kong-res, makh-luk, masy-hur, sang-gup
2.    Pemenggalan kata turunan sedapat-dapatnya dilakukan di antara bentuk dasar dan unsur pembentuknya.
Misalnya:
ber-jalan
mem-bantu
di-ambil
ter-bawa
per-buat
makan-an
letak-kan
pergi-lah
apa-kah
kekuat-an
mem-pertanggungjawabkan
memper-tanggungjawabkan
mempertanggung-jawabkan
mempertanggungjawab-kan
me-rasakan
merasa-kan
per-buatan
perbuat-an
ke-kuatan

Catatan:
(1)      Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya mengalami perubahan dilakukan seperti pada kata dasar.
Misalnya: me-nu-tup, me-ma-kai, me-nya-pu, me-nge-cat, pe-mi-kir, pe-no-long, pe-nga-rang, pe-nge-tik, pe-nye-but.

(2)      Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada kata dasar.
Misalnya: ge-lem-bung, ge-mu-ruh, ge-ri-gi, te-lun-juk
(3)      Pemenggalan kata yang menyebabkan munculnya satu huruf di awal atau akhir baris tidak dilakukan.
Misalnya:
Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah disampaikan ….
Walaupun cuma-cuma, mereka tidak mau mengambil makanan itu.
3.    Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu unsurnya itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap unsur gabungan itu dipenggal seperti pada kata dasar.
Misalnya:
biografi                   bio-grafi                      bi-o-gra-fi
biodata                    bio-data                       bi-o-da-ta
fotografi                 foto-grafi                     fo-to-gra-fi
fotokopi                  foto-kopi                     fo-to-ko-pi
introspeksi              intro-speksi                  in-tro-spek-si
4.    Nama orang yang terdiri atas dua unsur atau lebih pada akhir baris dipenggal di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:
Lagu “Indonesia Raya” digubah oleh Wage Rudolf Supratman.
Buku Layar Terkembang dikarang oleh Sutan Takdir Alisjahbana.
5.    Singkatan nama diri dan gelar yang terdiri atas dua huruf atau lebih tidak dipenggal.
Misalnya:
Ia bekerja di DLLAJR.
Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.Ng. Rangga Warsita.
Catatan:
Penulisan berikut dihindari.
Ia bekerja di DLL-AJR.
Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.-Ng. Rangga Warsita.
f.     Kata Depan
                        Kata depan, seperti di, ke, dan dari, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Kain itu disimpan di dalam lemari.
Mari kita berangkat ke kantor.
Ia berasal dari Pulau Penyengat.
g.    Partikel
1.      Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik!
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?

2.      Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
Jika kita hendak pulang tengah malam pun, kendaraan masih tersedia.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah berkunjung ke rumahku.

Catatan:
Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung
ditulis serangkai.
Misalnya:
Meski
pun sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.
Dia tetap bersemangat walaupun lelah.
Adapun penyebab kemacetan itu belum diketahui.
Bagaimanapun pekerjaan itu harus selesai minggu depan.
3.      Partikel per yang berarti demi, tiap, atau mulaiditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Mereka masuk ke dalam ruang rapat satu per satu.
Karyawan itu mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.
h.   Singkatan dan Akronim
1.      Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan itu.
Misalnya:
A.H. Nasution                   Abdul Haris Nasution
W.R. Supratman                Wage Rudolf Supratman
M.B.A.                               master of business administration
S.Sos.                                 sarjana sosial
Sdr.                                    Saudara

a.       Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
 
Kol. Darmawati                 Kolonel Darmawati
2.       a.       Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
NKRI              Negara Kesatuan Republik Indonesia
IAIN               Institut Agama Islam Negeri
KUHP                         Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
b.      Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
PT                    perseroan terbatas
KTP                 kartu tanda penduduk
NIP                  nomor induk pegawai
3.      Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik.
Misalnya: hlm. (halaman), dll. (dan lain-lain), dsb. (dan sebagainya), dst. (dan seterusnya), sda. (sama dengan di atas), yth. (yang terhormat), ttd. (tertanda), dkk. (dan kawan-kawa), ybs. (yang bersangkutan)
4.      Singkatan yang terdiri atas dua huruf yang lazim dipakai dalam surat-menyurat masing-masing diikuti oleh tanda titik.
Misalnya: a.n. (atas nama), d.a. (dengan alamat), u.b. (untuk beliau), u.p. (untuk perhatian), s.d. (sampai dengan)

5.      Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya: Cu (kuprum), cm (sentimeter), kVA (kilovolt-ampere),         l (liter), kg (kilogram), Rp (rupiah)

6.      Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata
ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya: BIG (Badan Informasi Geospasial), BIN (Badan Intelijen Negara), LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), LAN (Lembaga Administrasi Negara)

7.      Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau
gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis
dengan huruf awal kapital.
Misalnya: Bulog (Badan Urusan Logistik), Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), Kowani (Kongres Wanita Indonesia), Kalteng (Kalimantan Tengah), Mabbim (Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia), Suramadu (Surabaya-Madura)

8.      Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
iptek                      ilmu pengetahuan dan teknologi
pemilu                    pemilihan umum
puskesmas             pusat kesehatan masyarakat
rapim                     rapat pimpinan
rudal                      peluru kendali
tilang                     bukti pelanggara



BAB III
PENUTUP

1.1    Kesimpulan
            Setelah melakukan pembahasan dan pengkajian mengenai Aturan Penulisan Angka dan Lambang Bilangan dan Aturan Penulisan Tanda Baca, maka penulis menyimpulkan hal-hal sebagai sebagai berikut:
1)        Bahwa dalam pemakaian huruf dan penulisan kata, kita harus berpedoman dan berdasarkan pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disusun oleh Panitia Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan terutama dalam penulisan karya tulis ilmiah, dalam hal ini yang berhubungan dengan pemakaian huruf dan penulisan kata.
2)        Dalam aturan pemakaian huruf yang terdapat dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, kita mengenal beberapa pembahasan  tentang Huruf Abjad, Huruf Vokal, Huruf Konsonan, Huruf Diftong, Gabungan Huruf Konsonan, Huruf Kapital, Huruf Miring, dan Huruf Tebal.
3)        Sedangkan untuk aturan penulisan kata, maka kita harus bias memahami dan mengerti apa itu Kata Dasar, Kata Berimbuhan, Bentuk Kata Ulang, Gabungan Kata, Pemenggalan Kata, Kata Depan, Partikel, dan Singkatan dan Akronim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar