Sabtu, 29 Juni 2019

Makalah: Beberapa Pendekatan dalam Studi Islam


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Alquran dan Hadis tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti-feodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap positif lainnya.
Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekadar disampaikan dalam khotbah, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab mana kala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain, yang secara operasional konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Dalam memahami agama banyak pendekatan yang dilakukan. Hal demikian perlu dilakukan, karena dengan pendekatan tersebut kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya. Berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis, fenomenologis, antropologis, sosiologis, psikologis, historis dan pendekatan filosofis, serta pendekatan-pendekatan lainnya. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.
Pendekatan dalam studi islam yaitu pendekatan Teologis, Fenomenologis dan Filosofis sangat menarik untuk dikaji. Sehingga pada kesempatan kali ini penulis akan mengkaji pendekatan tersebut dalam studi Islam.

1.2    Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Pendekatan Studi Islam?
2.      Bagaimana pendekatan Teologis dalam Studi Islam?
3.      Bagaimana pendekatan Fenomenologis dalam Studi Islam?
4.      Bagaimana pendekatan filosofis dalam Studi Islam?

  
BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Pendekatan Studi Islam
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pendekatan adalah: Pertama, proses perbuatan, cara mendekati. Kedua, usaha dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti, metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian. Dalam bahasa inggris pendekatan diistilahkan dengan “Approach”, dalam bahasa Arab disebut dengan “Madkhal”.[1] Pendekatan adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hal ini adalah agama Islam, dimana agama Islam dapat dilihat dalam beberapa aspek yang sesuai dengan paradigmanya.[2]
Pendekatan studi Islam adalah suatu cara kerja untuk memudahkan seseorang mengetahui dan mendalami Islam secara luas dan menyeluruh agar tidak muncul pola fikir yang dangkal.

2.2    Pendekatan Teologis dalam Studi Islam
            Seyyed Hossein Nasr mengungkapkan bahwa dalam era kontemporer ini ada 4 prototipe pemikiran keagamaan Islam, yaitu pemikiran keagamaan fundamentalis, modernis, mesianis, dan tradisionalis. Masing-masing mempunyai “keyakinan” teologi yang seringkali sulit untuk didamaikan. Dalam hal ini memang kurang tepat digunakan istilah teologi, tetapi menunjuk pada gagasan pemikiran keagamaan yang terinspirasi oleh paham ketuhanan dan pemahaman kitab suci serta penafsiran ajaran agama tertentu merupakan bentuk dari pemikiran teologi dalam wajah baru.[3]
            Dari pemikiran tersebut, dapat diketahui bahwa pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai yang paling benar, sementara yang lainnya salah. Dengan demikian, antara satu aliran dengan aliran lainnya tidak terbuka dialog atau saling menghargai; yang ada hanyalah eksklusifisme, sehingga yang terjadi adalah pemisahan dan pengkotak-kotakan.
            Atas dasar pemaparan di atas, maka pendekatan teologis dalam memahami agama  merupakan upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka Ilmu Ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya. Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen, dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang subjektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis.
            Ada beberapa macam pendekatan teologis dalam studi Islam, yaitu:
1.      Pendekatan Teologis Normatif
            Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama, ialah upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka Ilmu Ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap yang paling benar bila dibandingkan dengan elemen lainnya.[4] Model pendekatan ini, oleh Muh. Natsir Mahmud, disebut sebagai pendekatan teologis-apologis. Hal itu karena pendekatan ini cenderung mengklaim diri sebagai yang paling benar. Selain itu, pendekatan teologis normative memandang yang berada di luar dirinya sebagai sesuatu yang salah, atau minimal keliru.
            Dalam kerangka studi agama, normativitas ajaran wahyu dibangun, dikemas, dan dibakukan melalui pendekatan doktrinal-teologis. Pendekatan normatif ini berangkat dari teks yang sudah tertulis dalam kitab suci masing-masing agama. Oleh karena itu, pendekatan ini dianggap sebagai bercorak literalis, tektualis, dan skripturalis.[5]
Jadi, pendekatan teologis memiliki arti yang berkaitan dengan aspek ketuhanan. Sedangkan, normatif secara sederhana diartikan dengan hal-hal yang mengikuti aturan atau norma-norma tertentu. Dalam konteks ajaran Islam, normatif merupakan ajaran agama yang belum dicampuri oleh pemahaman dan penafsiran manusia.[6] Dengan kata lain, pendekatan teologis normatif dalam agama adalah melihat agama sebagai suatu kebenaran yang mutlak dari Tuhan, tidak ada kekurangan sedikit pun dan nampak bersifat ideal. Dalam kaitan ini, agama tampil sangat prima dengan seperangkat cirinya yang khas.
            Pendekatan normatif dapat diartikan studi Islam yang memandang masalah dari sudut legal formal atau dari segi normatifnya. Dengan kata lain, pendekatan normatif lebih melihat studi Islam dari apa yang tertera dalam teks Alquran dan Hadis. Pendekatan normatif dapat juga dikatakan pendekatan yang bersifat domain keimanan tanpa melakukan kritis kesejarahan atas nalar lokal dan nalar zaman yang berkembang, serta tidak memperhatikan konteks kesejarahan Alquran. Pendekatan ini mengasumsikan seluruh ajaran Islam baik yang terdapat dalam Alquran, Hadis maupun ijtihad sebagai suatu kebenaran yang harus diterima saja dan tidak boleh diganggu gugat lagi.[7]

2.      Pendekatan Teologis–Dialogis
            Pendekatan teologis–dialogis adalah mengkaji agama tertentu dengan mempergunakan perspektif agama lain. Model pendekatan ini, banyak digunakan oleh orientalis dalam mengkaji Islam.

3.      Pendekatan Teologis-Konvergensi
            Pendekatan teologi-konvergensi merupakan metode pendekatan terhadap agama dengan melihat unsur-unsur persamaan dari masing-masing agama atau aliran. Adapun maksud dari pendekatan ini ialah ingin mempersatukan unsur-unsur esensial dalam agama-agama, sehingga tidak nampak perbedaan yang esensial. Dalam kondisi demikian, agama dan penganutnya dapat disatukan dalam satu konsep teologi universal dan umatnya disatukan sebagai satu umat beragama.

2.3    Pendekatan Fenomenologis dalam Studi Islam
            Fenomenologi berasal dari kata “phainein” yang berarti memperlihatkan dan “pheinemenon” yang berarti sesuatu yang muncul atau terlihat, sehingga dapat diartikan “back to the things themselves” atau kembali kepada benda itu sendiri. Menurut Hadiwijoyo, kata fenomena berarti “penampakan” seperti pilek, demam dan meriang yang menunjukkan fenomena gejala penyakit.[8]
            Fokus utama fenomenologi agama adalah aspek pengalaman keagamaan, dengan mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena keagamaan secara konsisten dalam orientasi keimanan atau kepercayaan objek yang diteliti. Pendekatan ini melihat agama sebagai komponen yang berbeda dan dikaji secara hati-hati berdasarkan sebuah tradisi keagamaan untuk mendapatkan pemahaman di dalamnya. Fenomenologi agama muncul dalam upaya untuk menghindari pendekatan-pendekatan yang sempit, etnosentris dan normatif dengan berupaya mendeskripsikan pengalaman-pengalaman agama dengan akurat.

2.4    Pendekatan Filosofis dalam Studi Islam
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Selain itu, filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.[9]
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, Poerwadarminta mengartikan filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas, hukum dan sebagainya terhadap segala yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti ”adanya” sesuatu.[10]
Sedangkan dalam kajian Islam berpikir filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memahami agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara saksama. Pendekatan filosofis ini sebenarnya sudah banyak dilakukan sebelumnya, di antaranya Muhammad al-Jurjawi yang menulis buku berjudul Hikmah Al Tasyri’ wa Falsafatuhu. Dalam buku tersebut Al Jurjawi berusaha mengungkapkan hikmah yang terdapat di balik ajaran-ajaran agama Islam, misalnya ajaran agama Islam mengajarkan agar melaksanakan sholat berjamaah dengan tujuan antara lain agar seseorang dapat merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain, dan lain sebagainya. Makna demikian dapat dijumpai melalui pendekatan yang bersifat filosofis.
Dengan menggunakan pendekatan filosofis seseorang akan dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya, dan dapat pula menangkap hikmah dan ajaran yang terkandung di dalamnya. Dengan cara demikian ketika seseorang mengerjakan suatu amal ibadah tidak akan merasa kekeringan spiritual yang dapat menimbulkan kebosanan. Semakin mampu menggali makna filosofis dari suatu ajaran agama, maka semakin meningkat pula sikap, penghayatan, dan daya spiritualitas yang dimiliki seseorang.
Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengamalan agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang didapatkan dari pengamalan agama hanyalah pengakuan formalistik, misalnya sudah haji, sudah menunaikan rukun Islam kelima dan berhenti sampai disitu saja. Tidak dapat merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Namun demikian pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau menyepelekan bentuk pengamalan agama yang bersifat formal. Filsafat mempelajari segi batin yang bersifat esoterik, sedangkan bentuk (forma) memfokuskan segi lahiriah yang bersifat eksoterik. Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya mempergunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat memerlukan pendekatan filosofis dalam memahami ajaran agamanya.
Dari pemaparan di atas penulis mencoba untuk merumuskan pengertian dari pendekatan filosofis. Menurut penulis pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filosofis adalah upaya sadar yang dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang nampak.



BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
            Dari uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal, sebagai berikut:
1.      Pendekatan studi Islam adalah suatu cara kerja untuk memudahkan seseorang mengetahui dan mendalami Islam secara luas dan menyeluruh agar tidak muncul pola fikir yang dangkal.
2.      Pendekatan teologis dalam memahami agama  merupakan upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka Ilmu Ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.
3.      Fokus utama fenomenologi agama adalah aspek pengalaman keagamaan, dengan mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena keagamaan secara konsisten dalam orientasi keimanan atau kepercayaan objek yang diteliti.
4.      Pendekatan Filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filosofis adalah upaya sadar yang dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang nampak.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Yamin, Studi Islam Kontemporer, Jakarta: Amzah, 2006.

Al-Syaibani, Omar Mohammad AL-Toumy, Filsafah Pendidikan Islam, (terj.)        Langgulung dari judul asli falsafah al-tarbiyah al-islamiyah, Cet. I, Jakarta:       Bulan Bintang.1979.

Arief, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat   Press, 2002.

Hadiwijoyo, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Hilmi, Masdar dan A. Muzakki, Dinamika Baru Studi Islam, Surabaya: Arkola,      2005.

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.

Poerwadarminta, J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Cet. XII, Jakarta: Balai     Pustaka. 1991.



             [1]Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 99.
             [2]M. Yamin Abdullah, Studi Islam Kontemporer, (Jakarta: Amzah, 2006), h. 58.
             [3]Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), h.29.
             [4]Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, h. 28.
             [5]Masdar Hilmi dan A. Muzakki, Dinamika Baru Studi Islam, (Surabaya: Arkola, 2005), h. 109.
             [6]Masdar Hilmi dan A. Muzakki, Dinamika Baru Studi Islam, h. 63.
             [7]Masdar Hilmi dan A.Muzakki, Dinamika Baru Studi Islam, h. 64.
             [8]Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), h. 140.
             [9]Omar Mohammad AL-Toumy Al-Syaibani, Filsafah Pendidikan Islam, (terj.) Langgulung dari judul asli falsafah al-tarbiyah al-islamiyah, (Cet. I, Jakarta: Bulan Bintang.1979), h. 25.
             [10]J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Cet. XII, Jakarta: Balai Pustaka. 1991), h. 280.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar