أَلْحَمْدُ لِلّلهِ الَّذِيْ جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ شَهْرَ
الصِّيَامِ وَشَهْرَ التَّوْبَةِ، وَاَّلذِيْ أَنْزَلَ الْقُرْآنَ فِيْه
بِوَصِيْلَةِ الْمَلاَئِكَةِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ مِنْ شَرِّ هَمَزَاتِ
الشَّيْطَانِ وَالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ، أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحِسَانِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدْ: فَيَا أِيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ، و اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ أَنْزَلَ الرَّحْمَةَ فِيْ
الشَّهْرِ الْمُبَارَكَةِ، وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْأنِ
الْكَرِيْمِ : شَهْرُ
رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ
الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ، وَقَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إذَا رَأيْتُمُ الْهِلَا لَ فَصُوْمُوا وَإذَا رَأيْتُمُوْهُ
فَأفْطرُوْا فإنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُوْمُوا ثَلا ثِيْنَ يَوْمًا.
Hadirin sidang jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala,
Rabb yang telah mengutus kepada kita sebaik-baik utusan dan menurunkan kepada
kita sebaik-baik kitab suci. Tidak ada satu kebaikan pun kecuali umat ini telah
diajak kepadanya. Dan tidak ada satu kejelekan pun kecuali umat ini telah diingatkan
darinya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita
Muhammad beserta keluarganya, para sahabatnya, dan kaum muslimin yang mengikuti
petunjuknya.
Kaum Muslimin
Rahimakumullaah…
Bertakwalah kepada Allah, dekatkanlah diri kepada-Nya
dengan cara pendekatan seseorang yang menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Melihat. Takwa kepada Allah adalah melakukan suatu ketaatan sesuai
dengan syariat yang ditetapkan Allah dan meninggalkan perbuatan maksiat dengan
petunjuk dari-Nya disertai dengan perasaan takut akan adzab-Nya.
Hadirin sidang jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Kini
kita berada di penghujung bulan Sya’ban dan beberapa hari lagi kita akan
memasuki bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan. Maka selayaknya kita
tidak perlu menunda lagi untuk meningkatkan ketaatan dan ketakwaan kita kepada
Allah swt, takwa dalam artinya yang sebenar-benarnya takwa, yakni ketakwaan
yang dapat menumbuhkan amal shaleh yang nyata dalam kehidupan sehari-hari
sebagai pembuktian iman kita kepada Allah swt. Maka ini adalah waktu-waktu yang tepat
untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Maka mulai sekarang marilah
kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, semakin giat beribadah dan semakin
jauh meninggalkan larangan-larangan Allah.Selalu dan senantiasa berdoa sebagaimana ajaran Rasulullah SAW :
أَللَّهُمَّ
بَارِكْلَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Ya
Allah, berkatilah kehidupan kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah
usia kami hingga bulan Ramadhan.
Kemudian ketahuilah hadirin yang
dimuliakan Allah, bahwa di antara nikmat terbesar yang dikaruniakan oleh Allah
kepada para hamba-Nya adalah kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Karenanya, para hamba mesti berbahagia menyambut kedatangan
bulan Ramadhan dengan penuh rasa syukur dan keridhoan. Sesuai firman Allah :
شَهْرُ
رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ
الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
Bulan Ramadhan, adalah diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk
bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda
(antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir
(di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada
bulan itu (QS. Al-Baqarah, 2: 185)
Maka siapa pun yang masih dapat menjumpai bulan Ramadhan, maka hendaklah ia berpuasa.
Sementara beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan ramadhan, maka marilah kita senantiasa menyongsong kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh suka cita. Mempersiapkan segala potensi fisik, materi dan ruhani untuk mengagungkan bulan Allah ini. Bila telah masuk awal Ramadhan, marilah berdoa kepada Allah, agar dikarunia keselamatan keimanan dan kehusyukan beribadah selama sebulan penuh.
Para ulama terdahulu mencontohkan bahwa, sejak mendekati hari-hari terakhir bulan Sya’ban, mereka senantiasa meningkatkan amalan-amalan kebaikan seraya berdoa, ”Ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini (Ramadhan) keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Berikanlah kepada kami, taufik dan i’anah-Mu agar kami mampu melakukan amalan-amalan yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.”
Dan bila telah datang bulan Ramadhan
nanti, marilah kita ikuti sabda rasulullah SAW :
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ
عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أبْوَابَ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيْهِ أبْوَابَ
الْجَحِيْمِ وَتُغَلَّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ, فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ
شَهْرٍ
Telah datang Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu, saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. (HR. Ahmad)
Hadirin, Ikhwanul Muslimin
Rahimakumullah
Puasa
pada bulan Ramadhan adalah wajib dikerjakan oleh setiap orang Islam. Kewajiban
puasa Ramadhan berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah dan Ijma' para ulama.
Landasan
al-Qur’an sebagaimana telah kita dengarkan bersama tadi dalam firman Allah yang
tercantum di dalam surat al-Baqarah ayat 185.
Sedangkan
landasan hadits, tak berbilang banyaknya, salah satunya adalah sabda Rasulullah
SAW :
بُنِيَ
الإسْلاَ مُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةُ أنْ لاَ إلَهَ إلا الله وَأنَّ مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ اللهِ وَإقَامِ الصَّلا ةَ وَإيْتاَءِ الزَّكَاةِ وَالحَجِّ وَصَوْمِ
رَمَضَانَ
Islam berasaskan lima perkara, yaitu bersaksi tidak ada dzat yang
berhak disembah kecuali Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah,
mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan haji dan puasa dibulan Ramadhan.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Lalu, mungkin kita akan bertanya Tanya, bilamanakah bulan Ramadhan datang, dan kapankah kita akan memulai berpuasa Ramadhan?
Maka
ketahuilah jamaah sekalian, Datangnya bulan Ramadhan dapat ditetapkan dengan
dua jalan, pertama dengan terlihatnya hilal dan yang kedua adalah setelah
menggenapkan bulan Sya'ban hingga 30 hari.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :
إذَا
رَأيْتُمُ الْهِلَا لَ فَصُوْمُوا وَإذَا رَأيْتُمُوْهُ فَأفْطرُوْا فإنْ غُمَّ
عَلَيْكُمْ فَصُوْمُوا ثَلا ثِيْنَ يَوْمًا
Apabila kalian melihat hilal (bulan sabit penanda awal Ramadhan) maka puasalah dan apabila kalian melihat hilal (pada awal bulan Syawal) maka berbukalah (lebaran), dan apabila tertutup awan (mendung) maka berpuasalah 30 hari. (HR. Muslim)
Dalam
hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
الصَّوْمُ
يَومٌ تَصُوْمُوْنَ وَاْلفِطْرُ يَوْمٌ تُفْطِرُوْنَ وَالْأضْحَى يَوْمٌ
تُضَحُّوْنَ
Puasa itu adalah pada hari kalian
semua berpuasa, dan lebaran itu adalah pada hari kalian berbuka, sedangkan Idul
Adha adalah pada saat kalian semua berqurban. (HR.
Tirmidzi)
Berdasarkan
hadits ini kita dianjurkan agar menjaga persatuan dan persaudaraan sesama umat
Islam, jangan terpecah belah dan saling bermusuhan, hanya karena perbedaan
waktu penentuan awal Ramadhan dan hari raya.
Hadirin jamaah
Juma’t yang berbahagia
Lalu, siapa sajakah orang-orang yang
diwajibkan untuk menjalankan puasa? Mereka
adalah orang-orang yang telah menetapi syarat dan rukun puasa, yakni pertama,
ia harus orang Islam, Baligh (cukup umur). Dalam hal ini, anak-anak yang belum cukup umur belum
wajib berpuasa, kecuali hanya untuk latihan, supaya anak-anak terbiasa berpuasa
nanti. Kemudian syarat berikutnya adalah Berakal (tidak hilang akal atau gila).
Jadi, orang gila tidak wajib berpuasa. Karena memang tidak kena hukum untuk
berpuasa.
Sedangkan
rukun puasa adalah, pertama adanya niat yang harus telah dilakukan pada setiap
malam bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
مَنْ
لَمْ يُبَيِّتْ الصِّياَمَ قَبْلَ الفَجْرَ فَلا صِيَامَ لَهُ
Barang
siapa tidak berniat puasa pada malam sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.
(HR. Nasai). Jadi, tidak
sah puasa seseorang apabila dia berniat sesudah fajar apalagi sesudah shalat
subuh. Makanya, para imam selalu membacakan niat puasa sesudah shalat tarawih
atau sesudah shalat witir, untuk menjaga jangan sampai kita terlambat bangun
sahur. Yang penting kita sudah niat, biar tidak sempat sahur tidak apa-apa,
karena yang dilihat itu bukan banyaknya makanan yang kita makan saat sahur,
tetapi yang dilihat adalah niat kita.
Sedangkan rukun yang kedua adalah:
Menahan diri. Yaitu menahan diri dari segala yang membatalkan puasa seperti :
makan, minum dan bersetubuh (bagi suami istri) dari waktu mulai terbit fajar
sampai terbenamnya matahari.
Kemudian
yang perlu dikatahui adalah, hal-hal yang membatalkan puasa. Jika kita
melakukan hal-hal berupa Makan, minum dan bersetubuh bagi suami istri dengan sengaja. Atau terdapat sesuatu yang masuk
sampai ke tenggorokan, baik berkumur ketika wudhu atau menelan sesuatu benda
dan yang lainnya. Tentu batallah puasa kita.
Hal
lain yang membatalkan puasa adalah Muntah dengan sengaja. Rasulullah
SAW bersabda:
وَمَنْ
اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ
Barangsiapa muntah dengan sengaja
maka wajib mengqadha' (puasanya). (HR. Tirmidzi). Adapun muntah tanpa sengaja,
tidak membatalkan puasa.
Tidak
bemiat puasa pada malam harinya, juga membatalkan puasa. Keluamya darah haid
atau nifas. Murtad serta Hilang akal atau gila, adalah juga membatalkan puasa.
Karenanya kita harus senantiasa bertindak hati-hati selama menjalankan ibadah
puasa.
Sedangkan orang-orang yang
diperbolehkan tidak menjalankan ibadah puasa ada beberapa kategori, yakni :
- 1.
Wanita hamil, sesuai dengan petunjuk
dokter.
- 2.
Wanita
yang sedang menyusui, seperti halnya wanita hamil.
- 3. Musafir, orang yang bepergian jauh bukan untuk tujuan maksiat. Setelah itu wajib mengqadha' puasa yang ditinggalkannya pada hari-hari lain.
- 4. Orang
lanjut usia yang tidak sanggup lagi berpuasa. Sebagai gantinya dia harus
membayar fidyah setiap hari dengan memberi makan kepada satu orang miskin.
Maka
setelah mengetahui segala hal yang terkait dengan puasa Ramadhan, marilah
kita bersiap menyambut bulan Ramadhan demi menunaikan salah satu rukun Islam ini. Marilah kita sambut bersama bulan penuh berkah dan penuh
ampunan Allah ini dengan penuh rasa suka cita dan keikhlasan dalam beribadah.
Sebagaimana
Allah dan Rasulullah telah menyatakan keagungan bulan Ramadhan dalam surat
al-Baqarah ayat 185 di atas. Serta sabda Rasulullah SAW,
مَنْ
صَامَ رَمَضَانَ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
”Barangsiapa berpuasa Ramadhan
dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka diampuni
dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ
لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar